Tampilkan postingan dengan label Press & Links. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Press & Links. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 November 2014

Good bye Lenin. My dream, my power, my paint - One Gallery 2008. Arsip buku Dr Melani W. Setiawan





Judul: Good bye Lenin
size: 150cm x 300cm 
media: oil, acrylic on canvas 
2008 


Foto kenangan ini ketika pameran bersama, "My dream, my power, my paint" di One Gallery, Jakarta. 

Pada karya tersebut bercerita tentang seni tak lepas dr hidup dan lingkungannya, dan akan melahirkan seni yang hidup juga. Seni mencerahkan sisi pandang yang lain, mungkin keindahan akan membuatmu menciptakan apa saja yang menjadikan karya itu kuat, gagah, liar, tegar, penuh semangat dan menginspirasi. keindahan itu bukan hanya yang menentramkan mata, namun juga bisa yang menohok mata, hati dan rasa. Mengganggu namun kita tak mampu berlalu, ada sesuatu yang tak di mengerti namun kita tak bisa berhenti mencari. 

Foto ini terpilih untuk buku Dunia Seni Rupa Indonesia (The Archive Indonesian Art World) karya Dr. Melani W. Setiawan. Ini merupakan arsip personal dari Dr. Melani W. Setiawan yang menampilkan foto kenang–kenangan Dr.Melani dengan para seniman yang di temuinya. Menurut Melani, isi buku itu tidak lain kompilasi dari dokumentasi personalnya selama 30 tahun yang dikumpulkan kembali. Foto-foto sejak tahun 1977 tersebut mendokumentasikan peristiwa kisah-kisah perkembangan dunia seni rupa Indonesia yang merupakan bidang ketertarikan Melani.

Sebagai seorang pecinta seni, ia pun masuk ke lingkaran dalam para seniman, kurator, dan kritikus seni Indonesia. "Kedekatan dengan para seniman inilah yang membuat saya bisa belajar memahami karya sni dan pemikiran di baliknya," tambah Melani.

Peluncuran buku ini dilangsungkan bersamaan dengan pembukaan pameran Re.claim di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta pada tanggal 8 April 2012






Tautan:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/04/seni-rupa-indonesia-dari-mata-publik
http://news.indonesiakreatif.net/diskusi-the-archive-indonesian-art-world-dr-melani-w-setiawan/
https://archive.org/details/DuniaSenirupaIndonesiadrMelaniSetiawan
http://thejakartaglobe.beritasatu.com/archive/new-book-reclaims-local-art-scene/
http://www.scribd.com/doc/92393329/120414-Melani-Setiawan-Art-Archive-Bk

Minggu, 09 November 2014

Poster Solo Exhibition

2013    “GUY”, Miracle Corner, Jogjakarta

2012    “Opera Cahaya, Pintu, Kursi”, Bentara Budaya, Jogjakarta

2011    “SUMARAH”, Sangkring Art Project, Sangkring Gallery, Jogjakarta 
          2011  “Ironi Penari Ronggeng”, Langgeng Gallery, JAD, Jakarta

2010    “Mewarnai Hitam”, Langgeng Gallery, JAD, Jakarta

2009    “Attacked By Rats”, Stencil artshow, +/- Gallery Unkl347,Bandung 
2008    “Too Many People”, Museum dan Tanah Liat, MDTL, Jogjakarta


Senin, 06 Agustus 2012

Memprotes Perlakuan Terhadap Vincent Van Gogh

TEMPO.CO, Yogyakarta- Melihat lukisan perupa Doni Kabo sempat membuat hati bertanya-tanya. Obyek yang dilukis hanya dua macam, yakni kursi dan lemari. Bentuk kursinya pun nyaris sama. Kursi empuk dengan ukiran di tepinya. Apalagi bentuk pintu yang sangat biasa, papan kayu dengan beberapa lekukan disertai pegangan pintu. Kursi-kursi di dalam ruangan.

Beberapa lukisan diberi pemanis, seperti sebuah meja kecil, bulat, dengan telepon putar di atasnya serta pintu-pintu yang menempel pada dinding, dalam kondisi menutup. Belum lagi warna yang diperlihatkan sangat kusam, menunjukkan suasana muram. Warna hijau dan cokelat tua mendominasi semua lukisan itu.

“Saya ingin menggambarkan suasana di rumah sakit jiwa. Muram. Saat masuk, yang banyak kami temukan kursi dan pintu. Begitu terus,” kata Doni Kabo, saat ditemui Tempo, di Bentara Budaya Yogyakarta, Sabtu malam 4 Agustus 2012. Pintu-pintu itu menggambarkan kamar pasien, yang selalu tertutup dan terkunci. Sedangkan kursi-kursi merupakan tempat pasien jiwa duduk.

Kabo, demikian sapaan akrab perupa kelahiran Banjarmasin 32 tahun lalu itu, sedang menggelar pameran tunggal. Pameran itu bukan untuk syarat merampungkan pendidikan Pascasarjana Seni Lukis Institut Seni Indonesia, melainkan menggelar karya tunggal selama sepekan sejak 1 Agustus lalu, yang diberi tajuk “Opera Cahaya, Pintu, Kursi”. Karya itu untuk menjawab pertanyaan besar, apa batasan kegilaan dengan seniman? 

Ide itu tercetus dari nasib beberapa perupa Barat, seperti Vincent Van Gogh yang diasingkan di rumah sakit karena dianggap gila. Van Gogh sempat membuat karya Sun Flower justru saat dia dianggap gila. “Apakah (menjadi) seniman itu harus gila?” Kabo bertanya pada tiga bulan lalu. 

Dari situ, dia melakukan observasi dengan metode inklusif, yakni keluar dari studio. Ada dua tempat yang dituju, rumah sakit jiwa Puri Nirmala di Pakualaman dan di Panti Sosial Pemerintah Yogyakarta di Karangkajen. Kedua tempat itu berbeda. Puri Nirmala untuk menampung orang sakit jiwa yang mempunyai keluarga, sedangkan Panti Sosial untuk menampung gelandangan sakit jiwa yang terbuang. “Dari observasi itu, saya menemukan dua hal. Soal inspirasi dan halusinasi. Itu jawabannya,” kata dia. 

Bahwa seniman bekerja untuk mencari inspirasi, untuk menghasilkan karya. Sedangkan orang gila berhalusinasi. “Tidak ada karya seni yang dihasilkan orang gila,” ujar Kabo menjelaskan. 

Hal itu terbukti ketika Kabo menyediakan seperangkat alat lukis untuk pasien RSJ Puri Nirmala. Ada kertas, rayon, pensil warna, kuas, dan cat air. Dengan panduan kepala bangsal sebagai mediator, interaksi pun dijalin. “Saat saya minta pasien menggambar bunga, dia menggambar huruf-huruf. Tapi dia bilang itu bunga,” Kabo mengenang. 

Berbeda dengan di Panti Sosial, Kabo tak mengeluarkan alat lukis lantaran tidak ada interaksi. Sekitar satu bulan, barulah dia mendapat kesimpulan, yang dipertegas dokter rumah sakit jiwa itu, bahwa orang gila tidak bisa menggambar. “Berarti orang yang bisa menggambar tidak bisa disebut gila,” kata Kabo memprotes perlakuan terhadap Van Gogh maupun beberapa seniman lain yang sempat “digilakan”. 

Hasil observasi itu dituangkan di 24 kanvas. Kemudian dipilih delapan karya yang lalu dipamerkan. Jika diamati secara detail, meskipun beberapa lukisan tampak sama, ada yang berbeda pada pigura yang dilukis di tepi lukisan. 

Lukisan berjudul OCPK I (Opera Cahaya Pintu Kursi), misalnya, sama denganOCKP IV, yakni Kabo sama-sama melukis kursi panjang berukir dengan tiga tempat duduk. Pada ukiran pigura OCPK I digambarkan orang tua meniup seruling dan menabuh gendering. Sedangkan pada OCPK IV digambarkan sosok dengan kaki menyatu pada ukiran, berbentuk seperti kelopak bunga tulip. 

Lukisan sebagai pigura merupakan ornamen yang diambil dari kode estetika Grotesque, yakni penggambaran ornamen kegilaan yang berlebihan pada zaman setelah renaisans. 

Kurator pameran, Sudjud Dartanto, mengajak pengunjung untuk tidak semata-mata berhenti memaknai karya Kabo, tetapi harus berpikir kritis untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan. “Seperti, dari mana cahaya itu datang dan menerangi akal? Suasana seperti apa sebelum pintu ditutup? Juga siapa yang duduk di kursi itu?” kata Sudjud. 


PITO AGUSTIN RUDIANA


Dunia Absurditas Kabo



Oleh Yuli Yanti

“Opera Cahaya, Pintu, Kursi”  sebuah tema yang dikonsep oleh perupa Doni Kabo dalam pameran lukisan tunggalnya di Bentara Budaya Yogyakarta.  Kabo menggunakan tiga terma, cahaya, pintu dan kursi yang merupakan respon diskursusnya mengenai wacana kegilaan dalam  masyarakat.
Lukisan-lukisan bergambar  pintu, kursi dibingkai dengan warna-warna klasik, terasa dingin, kosong dan sunyi. Deret lukisan diatas kanvas ini adalah  gambaran penghayatan Kabo setelah tiga bulan ia melakukan observasi dan wawancara di rumah sakit jiwa. Apa yang menarik  dari tiga terma yang disuguhkan mahasiswa ISI Yogyakarta ini?

Awalnya konsep Kabo atas cahaya, pintu dan kursi, berangkat dari pertanyaannya tentang konsepsi rumah bagi seseorang. Ia tertarik untuk menjelajahi rumah yang tak lepas dari logika. Hingga  berakhir menjadi satu pertanyaan tentang kedudukan rumah sakit jiwa dalam masyarakat. Dari pengalaman obsevasinya yang liat itu-- muncul ide mempertanyakan soal wacana ‘kegilaan’  tidak mendapat tempat di Akademik Seni.

Kurator Sujud Dartanto yang berkawan dengan Kabo-- sekaligus menjalin diskusi dalam pameran ini  menggunakan wacana ‘kegilaan’ ala Paul Michel Foucault (Madness and Civilization 1961). Foucault seorang ilmuan psikiatri Perancis, selain intelektual, filsuf, sejarawan, kritikus dan sosiolog. Dimana wacana ‘kegilaan’ ternyata adalah produk dari rezim akal (rasionalitas) termasuk didalamnya ilmu pengetahuan yang terlanjur diterima sebagai kebenaran objektif-- yang steril dari kepentingan dan relasi kuasa. Wacana ‘kegilaan’ itu melahirkan disiplin ilmu psikiatri untuk mendefinisikan dan mengontrol tubuh gila.

Kabo merupakan salah satu perupa yang memilki minat terhadap suspensi. Dalam narasi, suspensi hadir sebagai blok kalimat yang membuat pembaca mengalami transformasi emosi. Dari keadaan sedih ke situasi sumringah dan sebaliknya. Sujud  memandang suspensi pada karya Kabo tidak lahir dari satu penghayatan yang kosong dan tak bermakna.

Kabo ada dalam kenyataan objektif, dimana didalamnya pergulatan kebermaknaan terjadi. Kabo juga berada pula dalam ruang, waktu dan historis. Dalam karyanya, realitas dilihat sebagai sebuah opera atau dalam kkhazanah folkore adalah pertunjukkan wayang.

Kembali pada ide Kabo, awal yang absurd  tentang kedudukan rumah sakit jiwa dan wacana ‘kegilaan’ serta seni yang dipersoalkan. Begitupun hubungan imajinasi, inspirasi dan halusinasi. Pameran lukisan Doni Karbo ini berlangsung mulai 1-6 Agustus 2012. “Kabo mengajak kita menikmati suspensi atas Opera Cahaya, Pintu, Kursi dalam bahasa estetik grotesque; mengawinkan dunia alam sadar dan bawah sadar manusia, ”ujar Sujud.

Minggu, 05 Agustus 2012

Pameran Tunggal Doni Kabo

YOGYA (KRjogja.com) - Seniman jebolan Studio Lukis FSRD ITB, Doni Kabo menggelar pameran tunggal ke 9 bertajuk 'Operasi Cahaya, Pintu dan Kursi' di Galeri Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) 1-6 Agustus 2012 dengan menampilkan 8 karya terbaik.

Kurator Pamern, Sudjud Dartanto menjelaskan Doni menampilkan realitas dilihat sebagai opera atau pertunjukan wayang. Selain itu menampilkan visualisasi suspens yang diwakilkan pada tiga terma yaitu cahaya, pintu dan kursi dikonsepsikan secara linier. 

"Tiga terma itu merupakan respons atas pengalamannya dalam menghayati diskursus 'kegilaan' dalam masyarakat. Karya-karya Kabo mengingatkan saya pada bagaimana suspens bisa menjadi hal yang diingini dalan seni rupam" ujarnya di Kotabaru Yogyakarta, Minggu (5/8/2012). (Fir)


http://krjogja.com/read/138288/pameran-tunggal-doni-kabo.kr

1-6 Agustus, Pameran Tunggal "Opera Cahaya Pintu Kursi" Doni Kabo











Reporter: Joe Jogjanews.com - Untuk kesembilan kalinya -tiga kali di Jogja-, seniman Doni Kabo akan menggelar pameran tunggal seni lukis dalam tajuk pameran “Opera Cahaya, Pintu, Kursi” pada Rabu-Selasa (1-6/8) di Bentara Budaya Yogyakarta. Bertindak sebagai kurator pameran adalah Sujud Dartanto. Sebanyak delapan karya akan dipamerkan Doni Kabo.Materi karya yang digunakan dalam karya lukis Doni Kabo adalah cat minyak, teer (bitumen) serta memakai bahandasar aspaltum dengan menggunakan media kanvas. ”Rencana ada delapan karya (yang sudah masuk katalog). Tapi nanti masih mau dilihat alternatif displaynya. Mungkin bisa lebih dari delapan,” terang Doni Kabo, Selasa (31/7). Pameran Seni Lukis “Opera Cahaya, Pintu, Kursi” hadir dari ide dasar yang sekilas tampak absurd yaitu mengenai pertanyaan tentang hubungan antara seni dan persoalan ‘kegilaan’ juga relasi ambiguitas antara pokok inspirasi dan halusinasi. Dari ide dasar itu kemudian Doni Kabo melakukan observasi lapangan. “Saya kerja bareng dari awal bersama kurator, juga sama teman saya Fitri Kristyoarti. Kita pakai metode observasi, inklusif, langsung terjun ke lokasi,” kata seniman kelahiran Banjarmasin ini. Doni Kabo melakukan observasi selama dua hingga tiga bulan ke beberapa pondok pesantren Almunawir Krapyak, Madrasah Masytoh Gamping, Rumah Sakit Jiwa Puri Nirmala serta panti sosial Excode. Dengan pesantren dan Madrasah Aliyah (MA) Almunawir, Doni Kabo melakukan diskusi bersama di Kersan Art Studio. "Kita maju terus agar tidak set back dari gagasan awal,” kata seniman Program Pascasarjana ISI Yogyakarta ini. Kurator pameran, Sujud Dartanto memberi arahan, karya-karya lukis Doni Kabo kali ini adalah karya-karya suspens dalam bahasa estetik mengawinkan dunia alam sadar dan bawah sadar manusia (estetika grotik). - 






http://jogjanews.com/1-6-agustus-pameran-tunggal-opera-cahaya-pintu-kursi-doni-kabo

DONI KABO GELAR OPERA CAHAYA PINTU KURSI DI YOGYAKARTA


Sunday, 05 August 2012
Sebanyak 16 lukisan terpajang di dinding Bentara Budaya dalam pameran bertajuk Opera Cahaya, Pintu, Kursi.Lukisan karya Doni Kabo tersebut memiliki gambar yang terkesan sederhana dibandingkan dengan pameran yang dilakukan perupa pada umumnya.


Biasanya para perupa mengangkat tema-tema sosial, politik, serta gaya hidup untuk dijadikan sebagai sebuah karya. Namun Doni justru memiliki pandangan lain. Perupa asal Banjarmasin itu, justru lebih memilih objek yang ada di sekelilingnya sebagai bahan pameran, seperti pintu,kursi,dan lampu. Kabo-sapaan akrabnya menuturkan,beberapa objek lukisan yang disajikan itu tercetus dari konsep bahwa seni rupa sejatinya adalah seni penghayatan.Artinya, kata dia,untuk membuat suatu karya lukis setiap perupa harus mampu menghayati setiap objek yang ada di sekelilingnya tanpa harus membuat suatu konsep yang terkesan rumit. 

“Objek apa pun di sekeliling kita tentu bisa diangkat menjadi sebuah karya seni,”kata dia,di selasela pameran,kemarin. Objek terdekat itu yang menjadi perhatian Kabo. Seperti rumah,selain berfungsi sebagai tempat berlindung dari panas serta hujan, rumah juga merupakan tempat beristirahat dan menjalankan pekerjaan domestik lainnya.Namun,konsep rumah tersebut tidak sebatas merupakan rumah sebagai tempat tinggal.Melainkan rumah dalam konsep lebih luas yakni rumah sakit jiwa. 

Sebelum melaksanakan pameran,Kabo melakukan penelitian di salah satu rumah sakit di Yogyakarta.Dari hasil pengamatannya,dia mendapat fakta bawa di setiap ruangan pasti memiliki pintu, lampu,serta kursi. Hasil pengamatannya itu, lantas ditransformasikan ke sebuah karya seni lukis.Namun, tiga wujud itu tidak lantas persis ia gambarkan ke dalam karyanya.Dia lebih menggambarkannya dengan bahasa estetik grostesque, sebuah genre lukis yang lahir pada era The Age Of Reason. 

Dalam karya lukisan ini terlihat kental nuansa klasik lukisan miliknya.“Frameini sengaja saya masukkan untuk menambah kesan klasik dalam setiap karya lukis saya,”ucapnya. Melalui pameran yang dipersiapkan selama hampir dua bulan itu,Kabo,seolah memberikan wacana baru terhadap dunia seni rupa di Yogyakarta,bahwa setiap objek yang berada di sekeliling bisa diangkat sebagai sebuah tema pameran. 

“Sejak awal 90-an seni rupa berbasis penghayatan telah tergantikan dengan kontemporer seiring dengan majunya perkembangan seni rupa di Yogya bahkan di Indonesia,”katanya.


 WINDY ANGGRAINA Yogyakarta 
Seputar Indonesia


Jumat, 03 Agustus 2012

Doni Kabo Pamerkan Karya di Bentara Budaya







TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Pameran Tunggal Seni Lukis Doni Kabo yang bertajuk “Opera Cahaya, Pintu, Kursi” dipamerkan di rumah galery Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), mulai Rabu (1/8/2012) hingga (6/8/2012). 

Pameran yang di selenggarakan oleh perupa tunggal yang mempunyai minat besar pada perihal suspens atau dalam bahasa narasinya kalimat yang membuat pembaca mengalami transformasi emosi dari keadaan sedih ke situasi sumringah dan sebaliknya ternyata terinspirasi dari renungan dan observasinya pada masa pra-pameran, dengan bermula dari pertanyaa-pertanyaan awal mengenai konsep rumah dan arti rumah bagi seseorang, sampai dengan hal yang paling kecil dalam penamaan istilah “rumah” ialah “rumah sakit jiwa”.

Di ambil dari nama “rumah sakit jiwa’, Doni Kabo tertarik dengan pada wacana “kegilaan”, yang menjadi bahan diskusi dalam inspirasi dah halusinasinya untuk berkarya di pamerannya kali ini. Hingga ada satu kutipan yang di ambil Kabo “dimana sebuah karya seni hadir, maka kegilaan tidak pernah ada” (Michel Foucault, “Madness and Civilization” (1961). Kabo mengajak penikmat pameran untuk menikmati suspens atas Opera Cahaya, Pintu, Kursi dalam bahasa estetik grotesque dari berbagai symbol visual yang di gunakan. Dengan membangun pertanyaan-pertanyaan untuk memperpanjang suspens pada diri penikmat karya-karyanya. (M3)



Selasa, 12 Juni 2012

Dusun Keloran ingin Bersih dari Masalah Sampah

Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia Andayani


TRIBUNKJOGJA.COM, YOGYA - Dari rasan-rasan tentang masalah sampah yang berserakan di lingkungan Dusun Keloran ditambah kebiasaan anak-anak yang membuat instalasi sederhana berbahan bekas bungkus rokok, Kelompok Post Tropic –kemudian- menggagas satu festival untuk Dusun Keloran. 

Panitia Pelaksana Octalyna Puspa Wardany mengatakan pilihan Dusun Keloran sebagai tempat berlangsungnya festival dengan judul “Keloran Bersih” bukanlah tanpa alasan. Studio kelompok Post Tropic yang terdiri atas 4 perupa Yogyakarta; Allatief, Doni Kabo, Fuad Danar, dan Harlen Kurniawan; memang berada dalam wilayah Dusun Keloran, Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY. 

“Melalui festival ini, kelompok Post Tropic berharap Dusun Keloran menjadi lebih bersih sembari mengakrabkan seni rupa pada anak-anak,” ujarnya dalam rilis yang disampaikan kepada Tribunjogja.com, Selasa (12/6/2012).

Festival bertajuk “Keloran Bersih” ini, ternyata mendapat tanggapan baik dan didukung oleh panitia Festival Kebudayaan Yogyakarta. Festival Kebudayaan Yogyakarta, secara resmi, akan berlangsung pada tanggal 20 Juni – 10 Juli 2012 di seluruh pelosok Yogyakarta dengan tema “Masa Depan Kita”. Namun demikian, acara-acara yang diselenggarakan berbagai kelompok seni sebelum tanggal resmi pelaksanaan FKY, singkatan akrab Festival Kebudayaan Yogyakarta, dapat diakomodir dalam festival ini. 

Penyelenggaraan FKY tahun ini memang hendak menggeliatkan berbagai kegiatan seni di komunitas. Jadilah, festival Keloran Bersih ini merupakan bagian dari Festival Kesenian Yogyakarta 2012.

Festival “Keloran Bersih” mulai dilaksanakan sejak tanggal 10 Juni hingga 24 Juni 2012. Ada 4 kegiatan dalam festival ini, yaitu: Lomba Gambar dan Pameran Lukis Anak pada tanggal 10 Juni 2012, mulai jam 10.00 WIB. Sablon kaos yang merupakan penyediaan fasilitas penyablonan kaos bagi warga dan masyarakat umum selama festival “Keloran Bersih” bersih berlangsung; 10 – 24 Juni 2012.

“Juga akan diadakan Gotong Royong bersama warga Dusun Keloran untuk membersihkan kali pada 17 Juni 2012. Kreasi pembuatan Tong Sampah Bersama pada tanggal 19 – 24 Juni 2012. Kecuali kegiatan Gotong Royong Bersih Kali Keloran, tiga kegiatan festival ini akan diberlangsungkan di Studio Kelompok Post Tropic,” paparnya.

Dalam perjalanan penyelenggaraan Fetival “Keloran Bersih”, banyak pihak turut pula memberikan bantuan dan dukungan dalam berbagai bentuk. Kelompok Sculpcrut yang terdiri dari para mahasiswa Fakultas Seni Rupa, Jurusan Seni Patung, Institut Seni Indonesia angkatan 2011 berperan aktif dalam penyelenggaraan festival ini. Juga, kelompok Ketjil Bergerak, Survive Garage, Taring Padi, Art Merdeka, All & Windoe t-shirt cotton yang berdomisili di dekat Dusun Keloran. 

Tak melupa pada Sasenitala dan JogjaNews, serta dukungan penuh dari Warga Dusun Keloran dan Komunitas Muslim Muda Keloran “Ashabul Aqsha” untuk mewujudkan “Keloran Bersih” (*).

Sabtu, 09 Juni 2012

Kelompok Post Tropic dan Warga Dusun Keloran Selenggarakan Festival Keloran Bersih - See more at: http://jogjanews.com/kelompok-post-tropic-dan-warga-dusun-keloran-selenggarakan-festival-keloran-bersih#sthash.rgXf76VJ.dpuf

Kelompok Post Tropic dan Warga Dusun Keloran Selenggarakan Festival Keloran Bersih



Reporter: Joe


JOgjanews.com - Kelompok Post Tropic pada 10-24 Juni 2012 akan menggelar Festival Keloran Bersih” di Dusun Keloran, Tirtonirmolo Kasihan Bantul. Rilis kelompok Post Tropic menjelaskan Festival Keloran Bersih diawali dengan adanya rasan-rasan tentang masalah sampah yang berserakan di Dusun Keloran serta kebiasaan anak-anak Dusun Keloran yang membuat instalasi sederhana dari bahan bekas bungkus rokok.

“Melalui festival ini, kelompok Post Tropic berharap Dusun Keloran menjadi lebih bersih sembari mengakrabkan seni rupa pada anak-anak,” terang rilis dari kelompok Post Tropic, Sabtu (9/6). Kelompok Post Tropic terdiri dari empat (4) seniman (perupa) yang tinggal di Dusun Keloran Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY. Mereka adalah Allatief, Doni Kabo, Fuad Danar serta Harlen Kurniawan.

Festival Keloran Bersih ini juga mendapat perhatian dan dukungan tinggi dari penyelenggara Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2012 sehingga bisa dimasukkan menjadi bagian dari penyelenggaraan kegiatan seni budaya FKY 2012.

“Acara-acara yang diselenggarakan berbagai kelompok seni sebelum tanggal resmi pelaksanaan FKY 2012 dapat diakomodasi dalam FKY 2012 sehingga jadilah Festival Keloran Bersih menjadi bagian dari FKY 2012,m” kata rilis kelompok Post Tropic.

Penyelenggaraan Festival Keloran Bersih” didukung banyak pihak yang memberikan bantuan dalam berbagai bentuk. Mereka antara lain kelompok Sculpcrut yang terdiri dari beberapa mahasiswa Jurusan Seni Patung Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Juga ada komunitas Ketjilbergerak, Survive Garage, Taring Padi, Art Merdeka, All & Windoe t-shirt cotton yang berdomisili di dekat Dusun Keloran. Komunitas Muslim Muda Keloran “Ashabul Aqsha” juga terlibat untuk mewujudkan dusun Keloran yang bersih..

Mulai Minggu (10/6) besok, Festival Keloran Bersih akan memulai kegiatannya. Berikut jadwal kegiatan Festival Keloran Bersih:

Lomba Gambar dan Pameran Lukis Anak pada tanggal 10 Juni 2012, mulai jam 10.00 WIB. Diselenggarakan di Studio Kelompok Post Tropic. 
Sablon kaos yang merupakan penyediaan fasilitas penyablonan kaos bagi warga dan masyarakat umum selama Festival Keloran Bersih bersih berlangsung 10 – 24 Juni 2012. Kegiatan ini dilakukan di Studio Kelompok Post Tropic. 
Kreasi pembuatan tong sampah bersama, Selasa-Minggu (19-24/6). Kegiatan ini juga diselenggarakan di Studio Post Tropic. 
Gotong Royong bersama warga Dusun Keloran untuk membersihkan kali Keloran Minggu (17/6) . Kreasi pembuatan Tong Sampah Bersama pada tanggal 19 – 24 Juni 2012.


Minggu, 19 Juni 2011

Doni Kabo – Ironi Sang penari Ronggeng






Haloo, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena beberapa minggu ini saya jarang sekali mengUpdate artikel di blog ini, sejak sekitar 2 bulan yang lalu saya memang disibukan dengan persiapan 2 event yang cukup menguras waktu dan tenaga saya, bila teman-teman lihat di Post artikel saya sebelum-sebelum ini, saya sering sekali menampilkan 2 event Desain Grafis, yang pertama adalah Pameran TUAI 2010, pameran Tugas Akhir mahasiswa Desain Grafis Seluruh Indonesia dan yang kedua dengan jarak yang sangat deket adalah Seminar David Berman ‘Beyon Brand and Design’, kedua Event tersebut memakan waktu saya untuk berkunjung ke Galeri & menulis di Blog, bagi teman-teman yang sudah berkunjung ke dua event tersebut saya ucapkan terimakasih banyak :). OK, sekarang saya bisa memulai kembali aktivitas melaporkan pameran seni apa saja yang sudah saya kunjungi, silahkan dinikmati.


Pameran pertama saya mulai dari Pameran Tunggal Doni Kabo di Langgeng Galleri – Jakarta Art District, secara pribadi tidak banyak yang saya ketahui mengenai seniman yang satu ini, satu-satunya informasi dan pengalaman yang saya miliki adalah saat mengunjungi pameran tunggalnya yang berjudul‘Mewarnai Hitam’ tahun lalu di tempat yang sama.





'Ingin memperhatikannya' | bitumen, oil, acrylic, aquarelle pencil, pastel Oil, Spray paint on canvas | 150x100cm | 2011 






'Ingin merindukannya' | bitumen, oil, acrylic, aquarelle pencil, pastel Oil, Spray paint on canvas | 150x100cm | 2011



Ironi Sang Penari Ronggeng membawa saya kepada suatu impresi bahwa apa yang dibawa oleh pameran ini ‘hanya’ sebuah pameran yang menampilkan figur seorang penari, diluar dari teknik lukis yang dimiliki Doni Kabo, sudah tidak ada hal lain lagi yang menurut saya menarik, setidaknya itulah yang saya pikirkan saat melihat secara langsung pameran ini, dan izinkan saya memohon maaf karena ternyata setelah saya membaca habis semua isi katalog Ironi Sang Penari Ronggeng ini, saya merasa semakin terpesona dengan figur yang dihadirkan oleh sang Seniman.


Pameran ini adalah sebuah pameran yang bisa saya katakan marupakan bentuk Apresiasi Doni Kabo terhadap karya Ahmadat Tohari, seorang sastrawan Indonesia dengan karyanya yang berjudul ‘Ronggeng Dukuh Paruk’, Doni Kabo merasa kagum serta menaruh perhatian besar kepada tokoh wanita pada kisah sastra tersebut yang bernama Srintil. Dan bentuk apresiasinya tersebut ia hadirkan dalam bentuk figur wanita penari ronggeng. Figur wanita tersebut dihadirkan Doni Kabo melalui foto yang kemudian ia lukis ulang dalam media kanvas, yang manarik dalam setiap karya Doni Kabo adalah ia sering dan selalu menggunakan bahan Aspalt sebagai penghantar imajinasinya, selain itu sering kali ia juga menggunakan berbagai macam alat lukis seperti Cat minyal, acrylic hingga spray paint dalam satu karyanya, meski menggunakan begitu banyak alat lukis, karya yang dihadirkan oleh Doni Kabo tetaplah merupakan sebuah lukisan monochrome yang detail dan mempesona.


Exhibition Name :Ironi Sang penari Ronggeng
Place : Langgeng Gallery (Jakarta Art District)
Curator : Alia Swastika
Time : 28 April – 22 Mai 2011
Artist : Doni Kabo



Senin, 16 Mei 2011

Kini, Sumarah Lebih Murung


TEMPO Interaktif, Jakarta -


“Bukannya kebetulan, Nduk, namamu Sri Sumarah. Dari nama itu, kau diharap berlaku dan bersikap sumarah. Pasrah dan menyerah. Lho, ini tidak berarti lantas kau diam saja, Nduk. Menyerah di sini berarti mengerti dan terbuka tetapi tidak menolak mengerti, Nduk. (hlm.10).” 


Kalimat yang dikutip dari novel Umar Kayam, Sri Sumarah dan Bawuk (1975), itu tertulis di atas kanvas putih berukuran 100x150 sentimeter. Ditulis perupa muda berusia 32 tahun, Donikabo. Kanvas itu diapit dua lukisan bergambar sosok perempuan bermuka muram. 


Berkerudung dengan gelang dan arloji melingkar di kedua tangan, wajah perempuan itu terlihat benar-benar sumarah. Pasrah dan menyerah. Seperti ekspresi yang ditampilkan, Donikabo memberi kedua judul lukisannya itu Tidak Sumarah I dan II. 

Kedua sosok wanita dalam kedua lukisan itu adalah sosok yang sama. Hanya pose tubuhnya saja yang membedakan. Tidak Sumarah I menggambarkan sosok perempuan setengah badan. Dia sedang bertopang dagu dengan tangan kanan dan tatapan matanya kosong. Entah apa yang sedang terpikir di benaknya. 

Pada Tidak Sumarah II, sosok perempuan itu terlihat meletakkan kepalanya di atas meja. Berbantal sebelah tangan, satu tangan yang lain telapaknya tertindih dagu. Lagi-lagi, ekspresinya tak kalah menyerah dengan lukisan pertama, Tidak Sumarah I. Matanya masih tetap kosong memandang. 

Dipamerkan di Sangkring Art Project Yogyakarta, 12-20 Mei 2011, empat lukisannya yang lain pun menampilkan ekspresi yang sama dengan sosok perempuan yang sama pula. Semuanya terlukis dalam dua warna. Hitam dan putih. Masing-masing lukisannya yang hampir berukuran sama itu diatur tergantung dan dipisahkan kanvas putih bertuliskan nukilan kalimat yang diambil dari novel Sri Sumarah dan Bawuk. 

“Ini adalah interupsi saya terhadap Sumarah yang kini murung,” kata Donikabo, di sela-sela pembukaan pamerannya, Kamis, 12 Mei 2011 malam kemarin. Dia mengaku terinspirasi kepribadian Sri Sumarah dalam novel Umar Kayam dan mengangkatnya menjadi tema pameran tunggalnya itu. 

Seperti makna dari namanya, sumarah (bahasa Jawa), Sumarah adalah sosok perempuan yang penuh sifat pasrah. Dalam tiap lukisannya, Donikabo menampilkan Sumarah berkeredung, sebagai cermin kepasrahan diri perempuan yang bersandar pada atribut keagamaan. 

Mengambil latar belakang Indonesia di tahun 1965, dikisahkan Sumarah adalah sosok perempuan Jawa yang tegar menjalani kehidupan. Satu persatu derita hidup menyapa, dia tetap pasrah menjalani.

Pasrah dijodohkan dengan Mas Marto lantas ditinggal mati lelaki yang belakangan menjadi suaminya itu. Dengan kondisi itu, dia harus banting tulang menghidupi Tun, buah hatinya. 

Derita tak berakhir di sini. Setelah besar, Tun ternyata diketahui hamil di luar nikah lantas menikah dengan Yos yang dibunuh karena dituding terlibat PKI. Tun pun ditahan. Dan kini, tinggallah Sumarah yang harus menanggung penghidupan Ginuk, cucunya. Semua derita hidup, dilalui Sumarah dengan senyum. 

Pembaca karya Donikabo, Hendra Himawan, mengatakan Donikabo mencoba memaknai ulang Sumarah yang disebutnya sebagai cermin kepribadian perempuan Jawa. Di mana sebagai seorang perempuan, ibu dan manusia biasa, Sumarah dipaksa tersenyum dalam berbagai kondisi oleh lingkungan. “Ada ketegangan-ketegangan yang tergambar dalam Sumarah,” kata dia. 

Donikabo, kata Hendra, memang terinspirasi dari Sumarah karya Umar Kayam. Realitas Sumarah itu lantas direnungkan sesuai pengalaman hidupnya. "Kabo dibesarkan oleh ibu yang single parent," kata Hendra bercerita. 

Melalui Sumarah dan pengalaman hidup yang dialaminya, Donikabo lantas membandingkan dengan kondisi perempuan dalam masyarakat saat ini. “(perempuan) harus tersenyum meski sedih, jatuh, tapi harus bangun, hingga menyerah atau bertahan,” kata dia. 

Maka membaca realitas perempuan saat ini tak bisa hanya sepotong, seperti membaca karya Donikabo yang dipamerkan. “Karena itu satu kesatuan,” kata dia. 

ANANG ZAKARIA



Minggu, 15 Mei 2011

Menyelami Figur Perempuan 'Sumarah'nya Doni Kabo

*BANTUL (KRjogja.com)* - Seniman muda asal Banjarmasin lulusan Pasca Sarjana Seni Lukis ISI Yogyakarta, Doni Kabo kembali menggelar pameran tunggulanya bertajuk 'Sumarah' di Sangkring Art Project (SAP) sejak 12 hingga 20 Mei 2011 mendatang . Belasan lukisan dihadirkan Doni Kabo sebagai wujud problematikan dan peran ganda seorang perempuan dengan segala bentuk kepasrahannya. Kurator pameran ini, Hendra Himawan mengungkapkan karya-karya yang dihadirkan dalam pameran ini mengungkapkan dilema perempuan yang seakan tertangkap lugas. Problematika diri ketika dihadapkan pada pilihan antara bekerja dan mengurusi buah hati dihadirkan dalam kadar yang sangat kuat. "Bagaimana jarak yang hadir diantara dua objek meluali figur perempuan dan dot tersebut, memicu perhatian kita untuk melihat dilema itu sebagai sebuah realita yang nyata hadir, sebuah pilihannyang berat tentunya," ujarnya di Sangkring Art Project Galery, Jalan Nitiparayan Bantul, Yogyakarta, Rabu (18/5).

Hendra menjelaskan disatu sisi ia harus bekerja mencari kaleng susu buat anaknya, di sisi lain buah hatinya menuntut tanggung jawab seorang ibu. Dualisme peran inilah yang memungkinkan lahirnya gesture maupun atribut yang mencerminkan identitas tertentu. Singlemother, mungkin adalah identitas yang dapat kita sematkan pada figur karya-karya ini. "Perempuan itu tampak begitu mencermati dot bayi dihadapannya yang mengisyaratkan sebuah intensitas perhatian yang begitu kuat diantara keduanya, namun terdapat jarak diantara keduanya. Membaca gerak dan narasi emotic yang dihadirkan, keberadaan kerudung yang dikenakan sang perempuan sesungguhnya merupakan bentuk ke'sumarah'an dirinya yang berarti kepasrahan atau menyerah. Menyerah disini berarti mengerti dan terbuka tetapi tidak menolak," paparnya. Dalam karya-karya ini, Hendra mengatakan kerudung menegaskan dirinya menjadi simbol kepasrahan diri perempuan yang bersandar pada atribut keagamaan.

"Memandang semua karya Doni Kabo ini, kita diajak untuk menyelami dunia ambang figur perempuan yang dihadirkan merupakan individu yang berada dalam wilayah liminal dari dua dunia yang mereka geluti, baik dunia kultural maupun dunia sosial," urainya. Hendra menambahkan liminalitas dihadirkan Kabo begitu kuat dimana ambiguitas 'Sumarah' dan paradoks antara ibu yang merupakan seoarang perempuan karier dengan bayinya yang disubsitusikan dengan dot dipaparkannya dalam narasi karya-karyanya. 

Beragam atribut yang disematkan dalam figur perempuan dalam karyanya menyiratkan wajah dunia liminal dengan visualitas karya yang monokromatik yang mengesankan labilitas dan keraguan, merupakan citra kuat akan liminalitasnya. Meski ranah liminal yang dihadirkan Kabo dengan tensi yang sangat kuat dengan memndang secara keseluruhan karya-karyanya, pengunjung dapat merasakan struktur narasi kehidupan yang membuat peristiwa dibelakangnya, terkesa rumit namun menjadi dapat dipahami karena dalam tataran dan bingkai simbolis narasi ini dapat mengikuti garis-garis penalaran yang berada pada tataran nisdar sekalipun. Ksatuan tematik hadir dalam masing-masing karya, kesinambungan yang diusung dan keselarasan makna hidup menjadi landasan spiritual tergelarnya pameran kali ini. *(Fir)*

Jumat, 13 Mei 2011

Tafsir Novel Sumarah Dalam Lukisan Doni Kabo


Tafsir Novel Sumarah dalam Lukisan Donikabo
Lukisan sosok Sri Sumarah dalam novel Umar Kayam karya perupa muda Donikabo. (TEMPO/ANANG ZAKARIA)

TEMPO InteraktifYogyakarta - Perupa muda Donikabo, 32 tahun, menampilkan lukisan yang mengangkat sosok Sri Sumarah dalam novel Umar Kayam. Mengambil temaSumarah, enam lukisannya yang berisi sosok perempuan berkerudung dengan gelang dan arloji melingkar di tangannya dipamerkan di Sangkring Art Project Yogyakarta, sepanjang 12-20 Mei 2011. “Ini adalah interupsi saya, bahwa kini Sumarah (lebih banyak murung),” kata Donikabo, perupa kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu.

Mengambil latar bekalang Indonesia di tahun 1965, novel Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam diterbitkan pertama kali pada 1975. Dikisahkan, Sumarah adalah sosok perempuan yang pasrah atawa sumarah dalam bahasa Jawa. Sumarah digambarkan sebagai perempuan yang tegar dengan berbagai derita hidup yang silih berganti menimpa. Pasrah dijodohkan dengan Mas Marto lantas ditinggal mati lelaki yang belakangan menjadi suaminya itu. Dengan kondisi itu, dia harus banting tulang menghidupi Tun, buah hatinya.

Derita tak berakhir di sini. Setelah besar, Tun ternyata diketahui hamil di luar nikah lantas menikah dengan Yos yang dibunuh karena tudingan terlibat PKI. Tun pun ditahan. Dan kini, tinggallah Sumarah yang harus menanggung penghidupan Ginuk, cucunya. Semua derita hidup, dilalui Sumarah dengan senyum.

Pembaca karya Donikabo, Hendra Himawan, mengatakan, Donikabo mencoba memaknai ulang Sumarah, yang disebutnya sebagai cermin kepribadian perempuan Jawa. Ia sebagai seorang perempuan, ibu, dan manusia biasa. Sumarah dipaksa tersenyum dalam berbagai kondisi oleh lingkungan. “Ada ketegangan-ketegangan yang tergambar dalam Sumarah,” ujar Hendra.

Hendra menyatakan, Donikabo memang terinspirasi dari Sumarah karya Umar Kayam. Realitas Sumarah itu lantas direnungkan sesuai pengalaman hidupnya. “Kabo dibesarkan oleh ibu yang single parent,” Hendra menuturkan.

Melalui Sumarah dan pengalaman hidup yang dialami, Donikabo lantas membandingkan dengan kondisi perempuan dalam masyarakat saat ini. “(perempuan) harus tersenyum meski sedih, jatuh tapi harus bangun, hingga menyerah atau bertahan,” ujar Hendra.

Maka, membaca realitas perempuan saat ini, tak bisa hanya sepotong. Seperti membaca karya Donikabo yang dipamerkan. “Karena itu satu kesatuan,” kata Hendra menjelaskan.


ANANG ZAKARIA

Senin, 26 April 2010

Doni Kabo – Mewarnai Hitam, Melampaui Suram

Jakarta Art District kembali melakukan pameran rutinnya yang dilakukan di Hall pameran Utamanya, pameran kali ini adalah giliran Langgeng Gallery, Gallery yang berada di Magelang ini sudah cukup terkenal dengan berbagai penyelenggaraan pameran seni yang terkenal, akan tetapi entah karena berbenturan dengan 3 event yang Langgeng lakukan atau tidak, pameran Doni Kabo berjudul ‘Mewarnai Hitam, Melampaui Suram’ ini seakan terabaikan, bukannya tanpa sebab saya mengatakan seperti ini, saat saya datang kesana ternyata pameran ini seperti sedang tidak ada pameran, tidak ada tanda khusus kecuali tergantungnya lukisan Doni Kabo disana..tidak ada judul pameran, tidak ada kalimat pembuka/sambutan, bahkan tidak ada katalog yang disediakan, bagaimana ini Langgeng Gallery?
'Mencekam Dua' - Bitumen Oil on Canvas-150x260cm(2panel)-2010
'Melampaui Suram Tiga' - Bitumen Oil On Canvas-200x150cm(2panel)-2010
Exhibition Name :Mewarnai Hitam, Melampaui Suram
Place : Jakarta Art District (Exhibition by Langgeng Gallery)
Curator : Alia Swastika
Time : 8 April – 20 April 2010
Artist : Doni Kabo

Selasa, 05 Agustus 2008

Empat perupa Bandung Pameran di Surabaya



















Sebanyak empat perupa asal Bandung mengadakan pameran di Galeri Surabaya dengan tema "Infected Brain", 4 - 10 Agustus mendatang. Pembukaan pameran empat perupa, yakni Doni Kabo, Yunis Kartika, Agung Prabowo dan Sekarputri Sidhiawati di komplek Balai Pemuda, Surabaya, Senin malam (4/7) dimeriahkan dengan atraksi "Drum Hero" yang merupakan komunitas drumer dan perkusi di Surabaya.
Yunis mengemukakan, ide karya mereka itu diilhami oleh film tentang semut yang memakan jamur beracun. Kemudian jamur itu tumbuh di kepala si semut. "Kalau untuk manusia, otak itu menjadi pusat kontrol dari semua aktivitas," kata mahasiswa pascasarjana Seni Murni ITB itu.
Yunis menampilkan karya semacam patung potongan tubuh yang terdapat beberapa bagian tubuh itu sebuah resleting, termasuk di bagian otak dan dada. Pada pameran kali ini Yunis dengan Doni Kabo yang juga mahasiswa S2 ITB menampilkan seni instalasi, sementara Agung Prabowo dan Sekarputri Sidhiawati menampilkan karya lukis.
Ditanya apakah pemilihan tema tentang otak ini berkaitan dengan banyaknya kajian mengenai kekuatan pikiran yang saat ini marak, Yunis membantahnya."Tapi kalau orang mengait-ngaitkan dengan hal itu tidak ada masalah," katanya. (Masuki M. Astro/ ANTARA, 4 Agustus 2008/ Foto: Hanif Nashrullah)


Pameran Seni Berotak



Setelah Wadji M.S. unjuk gigi, Galeri Surabaya kembali diramaikan pameran seni rupa karya para seniman Bandung. Selain lukisan, mereka memajang patung, instalasi, dan drawing. Pameran bertema Infected Brain itu dibuka kemarin (4/8) dan akan berlangsung hingga 10 Agustus. Mereka adalah empat mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Yakni, Doni Kabo, Yunis Kartika (keduanya mahasiswa pascasarjana seni murni), Agung Prabowo (seni grafis), dan Sekarputri Sidhiawati (seni keramik). Saat pembukaan, mereka melakukan performance art. Doni Kabo dan Yunis Kartika dilakban di tembok, kemudian tubuh mereka ''ditembak'' dengan visual proyektor OHP. Perpaduan minyak, air, dan pewarna makanan itu memancar ke tubuh kedua perupa tersebut di dinding. Agung dan Puti -panggilan Sekarputri- meniup campuran tersebut dengan sedotan. Efek dari campuran itu seperti lampu lava. Tema Infected Brain ingin mengatakan bahwa semua karya yang mereka hasilkan berawal dari otak. Meski terdapat perbedaan dalam melihat ''otak'' di antara mereka. Doni Kabo dan Yunis Kartika melihat otak lebih pada arti harfiah. Doni memamerkan delapan self-portrait yang menggambarkan dirinya dalam berbagai ekspresi. (jan, ari/ Jawa Pos, 5 Agustus 2008/ Foto: Hanif Nashrullah)

INFECTED BRAIN: Kolaborasi Empat Komunitas Seni



Empat komunitas seni: lukisan, pematung, musik dan teater menyatu di Galeri Surabaya (GS), Senin (4/8). Ajang seni tersebut, intinya pameran lukisan dan patung bertema Infected Brain yang dihadirkan empat seniman Bandung, Doni Kabo, Yunis Kartika, Agung Prabowo dan Sekarputri Sidhiawati. Pembukaan yang dilakukan secara lesehan semalam, dimeriahkan komunitas penggebuk drum dan perkusi yang tergabung dalam “Drum Hero”. Ajang yang dikoordinir Doweh ini dengan berbagai permainannya berhasil menyita perhatian pengguna jalan Yos Sudarso (depan GS). Sebagian penonton, ada yang mendekat ke halaman GS dan ada yang nongkrong di pinggir jalan dan duduk di sepeda motor. Setelah menampilkan para musisi dengan berbagai kepiawaiannya, pembukaan diawali sambutan koornator pameran, Luhur Kayungga, dari komunitas Teater API Surabaya. “Ini sebuah terobosan. Pameran lukisan dan patung selama ini banyak kolaborasi dengan penari maupun musik. Namun kali ini lengkap. Ada drum dan perkusi, teater serta yang membuka adalah pematung, Noor Ibrahim,” kata Luhur. Dalam sambutannya, Ibrahim mengaku bangga dengan seniman Bandung yang pameran di Surabaya. Pria brewokan ini mengaku tahu proses yang dilakukan para perupa dari kota kembang ini, kontemporer dan bicara kekinian. “Saya salut,” jelas pria yang seblumnya banyak tinggal di Jogjakarta ini. Ibrahim juga didaulat membuka pintu ruang pamer yang diberengi gebukan drum yang dipajang di halaman GS. Begitu masuk ruang, pengunjung dikejutkan oleh lembaran plat yang terlihat dipenuhi dengan goresan-goresan. Karena letaknya persis di depan pintu, banyak pengunjung yang terkecoh. Apakah itu karya seni atau bukan. Karena itu, ada pengunjung yang menghindar, tidak menginjak, tapi ada yang acuh saja, menginjak plat yang memanjang itu. Pameran yang digelar hingga 10 Agustus ini, Doni Kabo menghadirkan delapan lukisan hitam putih yang sosoknya hampir sama. Setiap lukisan dipadukan dengan angka-angka yang memenuhi frame. Karya dengan satu sosok dengan posisi merenung berat, berjudul “Bagusnya Apa”. Di antara sosok pribadi Doni yang tampil dalam karya, beberapa penonton ada yang mengidentikan sosok itu lebih mirip dengan pelukis dari Tuban, Masdibyo. Terutama pada kumisnya yang tebal. Yunis Kartika, tampil dengan empat patung. Tiga patung, mulai pinggang hingga kepala dijajar berdekatan. Sementara bagian pinggang hingga kaki berdiri berjauhan. Disini, Yuni sepertinya tampil “nakal” karena retsluiting celana terbuka hingga celana dalamnya terlihat. Patung berjudul "The Fool #1" berukuran 80 x 40 x 30 Cm ini berbahan paper, crome, polymate, zipper, spray on manequin. Karya tubuh Yuni ini dibalut perekat perak yang mempresentasikan rutinitas pada otak saat mengontrol tubuh yang menjadikannya seolah robot. Sementara karya Sekarputri begitu familiar namun tidak biasa. Ruang yang ia ciptakan seolah melipat dimensi fisik dan imajinasi manusia. Sehingga, justru membesarkan nilai kemanusiaan yang dimilikinya dan yang membuatnya bukan robot. Figur yang dihadirkan cukup naif, termasuk ada boneka anak-anak. Karya Agung, yang mengangkat self portrait, sepertinya meninggalkan kesadarannya untuk menjalani perjalanan pada landscape yang berada dalam kepalanya. Karya Agung, sepertinya banyak dilakukan oleh perupa Surabaya. “Saya sudah melakukan karya yang seperti ini sejak beberapa tahun lalu,” komentar pelukis yang juga kurator, Agus Koecing. (Gimo Hadiwibowo/ Surabaya Post, 5 Agustus 2008/ Foto: Hanif Nashrullah)