Senin, 29 April 2013

Panjangnya Bukan Kepalang - Pameran Tunggal 'Ojo Dumeh' Cahaya Novan,




"Ojo Dumeh"
Cahaya Novan
Miracle Art Space Yogyakarta
2013


PANJANGNYA BUKAN KEPALANG

"Ular naga panjangnya bukan kepalang/ Menjalar-jalar selalu kian kemari/Umpan yang lezat itulah yang dicari/Ini dianya yang terbelaaaa....kang!"
Lagu ini mungkin sering kita nyanyikan ketika kita masih kecil sambil bermain dengan riang gembira dengan teman-teman.. namun, siapakah ular naga ini?

Pada karya Novan Cahaya, Seniman kelahiran Jogjakarta 25thn lalu ini, bisa kita lihat ada 2naga di sisi kanan dan kiri ikut meramaikan karya lukisnya pada pameran tunggalnya kali ini. Setelah saya teliti ternyata motif, bentuk dan rupanya tersebut adalah rupa ular naga Jawa yang serupa dengan naga yang terdapat pada gamelan gong Jawa. Motif hias ular naga pada gong Jawa tersebut posisisnya selalu bertolak belakang , bagian ekornya selalu ada di tengah, hal tersebut merupakan simbol dunia bawah yang turun dari dunia atas. Hal ini menunjukkan bahwa Ular Naga ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan simbol dunia-dunia spiritual masyarakat jawa dan dihormati. Orang Jawa percaya bahwa 8 penjuru mata angin di jaga oleh naga. Naga mempunyai 8 keistimewaan , menyembur, menggigit, melilit, kuat, bisa hidup di air dan darat , meronta, bertukar kulit, bisa hidup dari minyak yang disimpan di ujung ekornya.

Ular Naga ini bagi petani jawa adalah makhuk yang dianggap sakral, Ular Naga ini adalah jelmaan Dewi Sri yang dalam kehidupan sehari-hari menjelma dalam bentuk ular sawah. Hal ini tertulis dalam serat babad ila-ila disebutkan : Dewi Sri dan Raden Sadhana adalah kakak beradik. Karena mereka tidak mau tinggal di kraton, maka oleh ayahandanya Prabu Purwacarita mereka dikutuk, Dewi Sri menjadi ular sawah dan Raden Sadhana menjadi burung Sriti. Kemudian mereka pergi entah kemana. Perjalanan dewi Sri atau ular sawah lebih banyak halangan daripada raden Sadhana sebagai burung Sriti . Akhirnya Ular sawah sampai di negeri wirata, berhenti sebentar didusun Wasutira lalu tidur melingkar ditengah-tengah padi. 

Didusun Wasutira inilah Ular sawah diletakkan di Petanen. Ular sawah itu nantinya akan menjaga bayi yang dikandung oleh Ken Sanggi atau istri dari Kyai Brikhu, sebab bayi yang dikandung itu adalah titisan Dewi Tiksnawati. Apabila ular itu mati , maka bayi itu juga akan mati. Demikianlah pada malam hari Ken Sanggi melahirkan anak perempuan dengan selamat. Maka Kyai Brikhu dalam memelihara ular sawah itu sangat berhati-hati jangan sampai mati. Sewaktu Kyai Brikhu tertidur , ular sawah itu seakan-akan berkata agar jangan diberi makan katak melainkan sesaji berupa sirih ayu, bunga serta lampu yang menyala terus. Setelah kyai Brikhu terbangun dari tidur langsung menyiapkan sesaji seperti apa yang diminta ular sawa tadi. Dewi Tiksnawati yang menitis pada tubuh bayi itu membuat huru hara di SBY, tempat kediaman dewa-dewa karena Dewi Tiksnawati tanpa memberi tahu atau ijin dari Sang Hyang Jagadnata. 

Sang Hyang Jagadnata menjadi murka dan mengutus para dewa untuk memberi bancana pada sang Bayi. Akan tetapi gagal karena kena pengaruh tolak bala yang diberi kan Kyai Brikhu dari Ular sawa tadi. Setelah beberapa kali gagal tahulah Sang Hyang Jagadnata bahwa semua itu berasal dari Dewi Sri. Kemudian Sang Hyang Jagadnata atau Batara Guru mengutus para bidadari untuk memanggil Dewi Sri. Dia akan dijadikan bidadari untuk melengkapi bidadari yang ada dikhayangan. permintaan Sang Hyang Jagadnata diterima oleh Dewi Sri, akan tetapi ia mohon agar Raden Sadhana yang dikutuk menjadi burung Sriti agar dapat diruwat menjadi manusia kembali. Ternyata Raden Sadhana telah diruwat menjadi manusia oleh Bagawan Brahmana Marhaesi putra dari Sang Hyang Brahma. Kemudian Raden Sadhana dikawinkan dengan putri yang bernama Dewi Laksmitawahni. Apabila telah berputra, Raden Sadhana akan diangkat menjadi dewa. Kemudian ular sawa diruwat menjadi Dewi Sri kembali oleh para bidadari. Sepeninggal para bidadari, Kyai Brikhu ketika tengah membersihkan petanen terkejut melihat ular sawa lenyap. Yang ada hanya seorang wanita cantik. Kyai Brikhu akhirnya tau bahwa Dewi Sri adalah putri dari Prabu Mahapunggung dinegeri Purwacarita. Sebelum Dewi Sri meninggalkan Kyai Brikhu dan keluarganya dia berpesan agar memberikan sesajen didepan petanen atau kamar tengah agar sandang pangannya tercukupi.setelah itu Dewi Sri moksa dan juga Raden Sadhana kembali ke khayangan.

Oleh karena itu pada setiap pada sethong tengah pada rumah Jawa selalu diberi gambar ular naga sebagai lambang kewanitaan, yaitu Dewi Sri yang memberikan kemakmuran. Para petani apabila ada ular sawah masuk kedalam rumah dijadikan pertanda bahwa sawahnya akan diberikan hasil yang baik atau banyak rejeki. Karenanya mereka tidak mau mengganggu ular sawah dan memberi sesaji.

Namun bagi saya hal ini bisa dibuktikan secara logika. Ular sawah itu menolong Petani dalam menyuburkan dan menjaga sawahnya dari hama tikus yang sangat merugikan. Semakin banyak ular sawah, maka hama tikus bisa dipastikan tidak bisa berkembang biak, sehingga panen bisa berhasil. Oleh karena itu ular naga ini bisa dianggap menjadi sesuatu yang sakral dan dianggap memberikan rejeki. Hal ini sesuai dengan hukum rantai makanan yang berkembang di alam. Oleh karenanya akan lebih baik kalau kita tidak menganggu keseimbangan dari rantai makanan. Bila salah satu rantai terputus maka keseimbangan alam akan terganggu dan kita manusia yang menganggunya akan merasakan efeknya cepat atau lambat.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa ular naga jawa ini tidak memiliki kaitan budaya dengan kebudayaan China. Legenda ular naga ini lahir dan hidup turun temurun dari kehidupan masyarakat Jawa zaman dahulu yang tentunya sebagian besar berprofesi sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. 


Doni kabo 
Perupa tinggal di jogjakarta

Minggu, 04 November 2012

Gejala I/CON Agus Suwage Sindrom


Gejala I/CON Agus Suwage Sindrom
Indonesia Contemporary  Art Network Yogyakarta
Doni Kabo
2012
Video taken by Farhan Adityasmara

Senin, 06 Agustus 2012

Memprotes Perlakuan Terhadap Vincent Van Gogh

TEMPO.CO, Yogyakarta- Melihat lukisan perupa Doni Kabo sempat membuat hati bertanya-tanya. Obyek yang dilukis hanya dua macam, yakni kursi dan lemari. Bentuk kursinya pun nyaris sama. Kursi empuk dengan ukiran di tepinya. Apalagi bentuk pintu yang sangat biasa, papan kayu dengan beberapa lekukan disertai pegangan pintu. Kursi-kursi di dalam ruangan.

Beberapa lukisan diberi pemanis, seperti sebuah meja kecil, bulat, dengan telepon putar di atasnya serta pintu-pintu yang menempel pada dinding, dalam kondisi menutup. Belum lagi warna yang diperlihatkan sangat kusam, menunjukkan suasana muram. Warna hijau dan cokelat tua mendominasi semua lukisan itu.

“Saya ingin menggambarkan suasana di rumah sakit jiwa. Muram. Saat masuk, yang banyak kami temukan kursi dan pintu. Begitu terus,” kata Doni Kabo, saat ditemui Tempo, di Bentara Budaya Yogyakarta, Sabtu malam 4 Agustus 2012. Pintu-pintu itu menggambarkan kamar pasien, yang selalu tertutup dan terkunci. Sedangkan kursi-kursi merupakan tempat pasien jiwa duduk.

Kabo, demikian sapaan akrab perupa kelahiran Banjarmasin 32 tahun lalu itu, sedang menggelar pameran tunggal. Pameran itu bukan untuk syarat merampungkan pendidikan Pascasarjana Seni Lukis Institut Seni Indonesia, melainkan menggelar karya tunggal selama sepekan sejak 1 Agustus lalu, yang diberi tajuk “Opera Cahaya, Pintu, Kursi”. Karya itu untuk menjawab pertanyaan besar, apa batasan kegilaan dengan seniman? 

Ide itu tercetus dari nasib beberapa perupa Barat, seperti Vincent Van Gogh yang diasingkan di rumah sakit karena dianggap gila. Van Gogh sempat membuat karya Sun Flower justru saat dia dianggap gila. “Apakah (menjadi) seniman itu harus gila?” Kabo bertanya pada tiga bulan lalu. 

Dari situ, dia melakukan observasi dengan metode inklusif, yakni keluar dari studio. Ada dua tempat yang dituju, rumah sakit jiwa Puri Nirmala di Pakualaman dan di Panti Sosial Pemerintah Yogyakarta di Karangkajen. Kedua tempat itu berbeda. Puri Nirmala untuk menampung orang sakit jiwa yang mempunyai keluarga, sedangkan Panti Sosial untuk menampung gelandangan sakit jiwa yang terbuang. “Dari observasi itu, saya menemukan dua hal. Soal inspirasi dan halusinasi. Itu jawabannya,” kata dia. 

Bahwa seniman bekerja untuk mencari inspirasi, untuk menghasilkan karya. Sedangkan orang gila berhalusinasi. “Tidak ada karya seni yang dihasilkan orang gila,” ujar Kabo menjelaskan. 

Hal itu terbukti ketika Kabo menyediakan seperangkat alat lukis untuk pasien RSJ Puri Nirmala. Ada kertas, rayon, pensil warna, kuas, dan cat air. Dengan panduan kepala bangsal sebagai mediator, interaksi pun dijalin. “Saat saya minta pasien menggambar bunga, dia menggambar huruf-huruf. Tapi dia bilang itu bunga,” Kabo mengenang. 

Berbeda dengan di Panti Sosial, Kabo tak mengeluarkan alat lukis lantaran tidak ada interaksi. Sekitar satu bulan, barulah dia mendapat kesimpulan, yang dipertegas dokter rumah sakit jiwa itu, bahwa orang gila tidak bisa menggambar. “Berarti orang yang bisa menggambar tidak bisa disebut gila,” kata Kabo memprotes perlakuan terhadap Van Gogh maupun beberapa seniman lain yang sempat “digilakan”. 

Hasil observasi itu dituangkan di 24 kanvas. Kemudian dipilih delapan karya yang lalu dipamerkan. Jika diamati secara detail, meskipun beberapa lukisan tampak sama, ada yang berbeda pada pigura yang dilukis di tepi lukisan. 

Lukisan berjudul OCPK I (Opera Cahaya Pintu Kursi), misalnya, sama denganOCKP IV, yakni Kabo sama-sama melukis kursi panjang berukir dengan tiga tempat duduk. Pada ukiran pigura OCPK I digambarkan orang tua meniup seruling dan menabuh gendering. Sedangkan pada OCPK IV digambarkan sosok dengan kaki menyatu pada ukiran, berbentuk seperti kelopak bunga tulip. 

Lukisan sebagai pigura merupakan ornamen yang diambil dari kode estetika Grotesque, yakni penggambaran ornamen kegilaan yang berlebihan pada zaman setelah renaisans. 

Kurator pameran, Sudjud Dartanto, mengajak pengunjung untuk tidak semata-mata berhenti memaknai karya Kabo, tetapi harus berpikir kritis untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan. “Seperti, dari mana cahaya itu datang dan menerangi akal? Suasana seperti apa sebelum pintu ditutup? Juga siapa yang duduk di kursi itu?” kata Sudjud. 


PITO AGUSTIN RUDIANA


Dunia Absurditas Kabo



Oleh Yuli Yanti

“Opera Cahaya, Pintu, Kursi”  sebuah tema yang dikonsep oleh perupa Doni Kabo dalam pameran lukisan tunggalnya di Bentara Budaya Yogyakarta.  Kabo menggunakan tiga terma, cahaya, pintu dan kursi yang merupakan respon diskursusnya mengenai wacana kegilaan dalam  masyarakat.
Lukisan-lukisan bergambar  pintu, kursi dibingkai dengan warna-warna klasik, terasa dingin, kosong dan sunyi. Deret lukisan diatas kanvas ini adalah  gambaran penghayatan Kabo setelah tiga bulan ia melakukan observasi dan wawancara di rumah sakit jiwa. Apa yang menarik  dari tiga terma yang disuguhkan mahasiswa ISI Yogyakarta ini?

Awalnya konsep Kabo atas cahaya, pintu dan kursi, berangkat dari pertanyaannya tentang konsepsi rumah bagi seseorang. Ia tertarik untuk menjelajahi rumah yang tak lepas dari logika. Hingga  berakhir menjadi satu pertanyaan tentang kedudukan rumah sakit jiwa dalam masyarakat. Dari pengalaman obsevasinya yang liat itu-- muncul ide mempertanyakan soal wacana ‘kegilaan’  tidak mendapat tempat di Akademik Seni.

Kurator Sujud Dartanto yang berkawan dengan Kabo-- sekaligus menjalin diskusi dalam pameran ini  menggunakan wacana ‘kegilaan’ ala Paul Michel Foucault (Madness and Civilization 1961). Foucault seorang ilmuan psikiatri Perancis, selain intelektual, filsuf, sejarawan, kritikus dan sosiolog. Dimana wacana ‘kegilaan’ ternyata adalah produk dari rezim akal (rasionalitas) termasuk didalamnya ilmu pengetahuan yang terlanjur diterima sebagai kebenaran objektif-- yang steril dari kepentingan dan relasi kuasa. Wacana ‘kegilaan’ itu melahirkan disiplin ilmu psikiatri untuk mendefinisikan dan mengontrol tubuh gila.

Kabo merupakan salah satu perupa yang memilki minat terhadap suspensi. Dalam narasi, suspensi hadir sebagai blok kalimat yang membuat pembaca mengalami transformasi emosi. Dari keadaan sedih ke situasi sumringah dan sebaliknya. Sujud  memandang suspensi pada karya Kabo tidak lahir dari satu penghayatan yang kosong dan tak bermakna.

Kabo ada dalam kenyataan objektif, dimana didalamnya pergulatan kebermaknaan terjadi. Kabo juga berada pula dalam ruang, waktu dan historis. Dalam karyanya, realitas dilihat sebagai sebuah opera atau dalam kkhazanah folkore adalah pertunjukkan wayang.

Kembali pada ide Kabo, awal yang absurd  tentang kedudukan rumah sakit jiwa dan wacana ‘kegilaan’ serta seni yang dipersoalkan. Begitupun hubungan imajinasi, inspirasi dan halusinasi. Pameran lukisan Doni Karbo ini berlangsung mulai 1-6 Agustus 2012. “Kabo mengajak kita menikmati suspensi atas Opera Cahaya, Pintu, Kursi dalam bahasa estetik grotesque; mengawinkan dunia alam sadar dan bawah sadar manusia, ”ujar Sujud.

Minggu, 05 Agustus 2012

Pameran Tunggal Doni Kabo

YOGYA (KRjogja.com) - Seniman jebolan Studio Lukis FSRD ITB, Doni Kabo menggelar pameran tunggal ke 9 bertajuk 'Operasi Cahaya, Pintu dan Kursi' di Galeri Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) 1-6 Agustus 2012 dengan menampilkan 8 karya terbaik.

Kurator Pamern, Sudjud Dartanto menjelaskan Doni menampilkan realitas dilihat sebagai opera atau pertunjukan wayang. Selain itu menampilkan visualisasi suspens yang diwakilkan pada tiga terma yaitu cahaya, pintu dan kursi dikonsepsikan secara linier. 

"Tiga terma itu merupakan respons atas pengalamannya dalam menghayati diskursus 'kegilaan' dalam masyarakat. Karya-karya Kabo mengingatkan saya pada bagaimana suspens bisa menjadi hal yang diingini dalan seni rupam" ujarnya di Kotabaru Yogyakarta, Minggu (5/8/2012). (Fir)


http://krjogja.com/read/138288/pameran-tunggal-doni-kabo.kr

1-6 Agustus, Pameran Tunggal "Opera Cahaya Pintu Kursi" Doni Kabo











Reporter: Joe Jogjanews.com - Untuk kesembilan kalinya -tiga kali di Jogja-, seniman Doni Kabo akan menggelar pameran tunggal seni lukis dalam tajuk pameran “Opera Cahaya, Pintu, Kursi” pada Rabu-Selasa (1-6/8) di Bentara Budaya Yogyakarta. Bertindak sebagai kurator pameran adalah Sujud Dartanto. Sebanyak delapan karya akan dipamerkan Doni Kabo.Materi karya yang digunakan dalam karya lukis Doni Kabo adalah cat minyak, teer (bitumen) serta memakai bahandasar aspaltum dengan menggunakan media kanvas. ”Rencana ada delapan karya (yang sudah masuk katalog). Tapi nanti masih mau dilihat alternatif displaynya. Mungkin bisa lebih dari delapan,” terang Doni Kabo, Selasa (31/7). Pameran Seni Lukis “Opera Cahaya, Pintu, Kursi” hadir dari ide dasar yang sekilas tampak absurd yaitu mengenai pertanyaan tentang hubungan antara seni dan persoalan ‘kegilaan’ juga relasi ambiguitas antara pokok inspirasi dan halusinasi. Dari ide dasar itu kemudian Doni Kabo melakukan observasi lapangan. “Saya kerja bareng dari awal bersama kurator, juga sama teman saya Fitri Kristyoarti. Kita pakai metode observasi, inklusif, langsung terjun ke lokasi,” kata seniman kelahiran Banjarmasin ini. Doni Kabo melakukan observasi selama dua hingga tiga bulan ke beberapa pondok pesantren Almunawir Krapyak, Madrasah Masytoh Gamping, Rumah Sakit Jiwa Puri Nirmala serta panti sosial Excode. Dengan pesantren dan Madrasah Aliyah (MA) Almunawir, Doni Kabo melakukan diskusi bersama di Kersan Art Studio. "Kita maju terus agar tidak set back dari gagasan awal,” kata seniman Program Pascasarjana ISI Yogyakarta ini. Kurator pameran, Sujud Dartanto memberi arahan, karya-karya lukis Doni Kabo kali ini adalah karya-karya suspens dalam bahasa estetik mengawinkan dunia alam sadar dan bawah sadar manusia (estetika grotik). - 






http://jogjanews.com/1-6-agustus-pameran-tunggal-opera-cahaya-pintu-kursi-doni-kabo

DONI KABO GELAR OPERA CAHAYA PINTU KURSI DI YOGYAKARTA


Sunday, 05 August 2012
Sebanyak 16 lukisan terpajang di dinding Bentara Budaya dalam pameran bertajuk Opera Cahaya, Pintu, Kursi.Lukisan karya Doni Kabo tersebut memiliki gambar yang terkesan sederhana dibandingkan dengan pameran yang dilakukan perupa pada umumnya.


Biasanya para perupa mengangkat tema-tema sosial, politik, serta gaya hidup untuk dijadikan sebagai sebuah karya. Namun Doni justru memiliki pandangan lain. Perupa asal Banjarmasin itu, justru lebih memilih objek yang ada di sekelilingnya sebagai bahan pameran, seperti pintu,kursi,dan lampu. Kabo-sapaan akrabnya menuturkan,beberapa objek lukisan yang disajikan itu tercetus dari konsep bahwa seni rupa sejatinya adalah seni penghayatan.Artinya, kata dia,untuk membuat suatu karya lukis setiap perupa harus mampu menghayati setiap objek yang ada di sekelilingnya tanpa harus membuat suatu konsep yang terkesan rumit. 

“Objek apa pun di sekeliling kita tentu bisa diangkat menjadi sebuah karya seni,”kata dia,di selasela pameran,kemarin. Objek terdekat itu yang menjadi perhatian Kabo. Seperti rumah,selain berfungsi sebagai tempat berlindung dari panas serta hujan, rumah juga merupakan tempat beristirahat dan menjalankan pekerjaan domestik lainnya.Namun,konsep rumah tersebut tidak sebatas merupakan rumah sebagai tempat tinggal.Melainkan rumah dalam konsep lebih luas yakni rumah sakit jiwa. 

Sebelum melaksanakan pameran,Kabo melakukan penelitian di salah satu rumah sakit di Yogyakarta.Dari hasil pengamatannya,dia mendapat fakta bawa di setiap ruangan pasti memiliki pintu, lampu,serta kursi. Hasil pengamatannya itu, lantas ditransformasikan ke sebuah karya seni lukis.Namun, tiga wujud itu tidak lantas persis ia gambarkan ke dalam karyanya.Dia lebih menggambarkannya dengan bahasa estetik grostesque, sebuah genre lukis yang lahir pada era The Age Of Reason. 

Dalam karya lukisan ini terlihat kental nuansa klasik lukisan miliknya.“Frameini sengaja saya masukkan untuk menambah kesan klasik dalam setiap karya lukis saya,”ucapnya. Melalui pameran yang dipersiapkan selama hampir dua bulan itu,Kabo,seolah memberikan wacana baru terhadap dunia seni rupa di Yogyakarta,bahwa setiap objek yang berada di sekeliling bisa diangkat sebagai sebuah tema pameran. 

“Sejak awal 90-an seni rupa berbasis penghayatan telah tergantikan dengan kontemporer seiring dengan majunya perkembangan seni rupa di Yogya bahkan di Indonesia,”katanya.


 WINDY ANGGRAINA Yogyakarta 
Seputar Indonesia