Senin, 16 Mei 2011

Kini, Sumarah Lebih Murung


TEMPO Interaktif, Jakarta -


“Bukannya kebetulan, Nduk, namamu Sri Sumarah. Dari nama itu, kau diharap berlaku dan bersikap sumarah. Pasrah dan menyerah. Lho, ini tidak berarti lantas kau diam saja, Nduk. Menyerah di sini berarti mengerti dan terbuka tetapi tidak menolak mengerti, Nduk. (hlm.10).” 


Kalimat yang dikutip dari novel Umar Kayam, Sri Sumarah dan Bawuk (1975), itu tertulis di atas kanvas putih berukuran 100x150 sentimeter. Ditulis perupa muda berusia 32 tahun, Donikabo. Kanvas itu diapit dua lukisan bergambar sosok perempuan bermuka muram. 


Berkerudung dengan gelang dan arloji melingkar di kedua tangan, wajah perempuan itu terlihat benar-benar sumarah. Pasrah dan menyerah. Seperti ekspresi yang ditampilkan, Donikabo memberi kedua judul lukisannya itu Tidak Sumarah I dan II. 

Kedua sosok wanita dalam kedua lukisan itu adalah sosok yang sama. Hanya pose tubuhnya saja yang membedakan. Tidak Sumarah I menggambarkan sosok perempuan setengah badan. Dia sedang bertopang dagu dengan tangan kanan dan tatapan matanya kosong. Entah apa yang sedang terpikir di benaknya. 

Pada Tidak Sumarah II, sosok perempuan itu terlihat meletakkan kepalanya di atas meja. Berbantal sebelah tangan, satu tangan yang lain telapaknya tertindih dagu. Lagi-lagi, ekspresinya tak kalah menyerah dengan lukisan pertama, Tidak Sumarah I. Matanya masih tetap kosong memandang. 

Dipamerkan di Sangkring Art Project Yogyakarta, 12-20 Mei 2011, empat lukisannya yang lain pun menampilkan ekspresi yang sama dengan sosok perempuan yang sama pula. Semuanya terlukis dalam dua warna. Hitam dan putih. Masing-masing lukisannya yang hampir berukuran sama itu diatur tergantung dan dipisahkan kanvas putih bertuliskan nukilan kalimat yang diambil dari novel Sri Sumarah dan Bawuk. 

“Ini adalah interupsi saya terhadap Sumarah yang kini murung,” kata Donikabo, di sela-sela pembukaan pamerannya, Kamis, 12 Mei 2011 malam kemarin. Dia mengaku terinspirasi kepribadian Sri Sumarah dalam novel Umar Kayam dan mengangkatnya menjadi tema pameran tunggalnya itu. 

Seperti makna dari namanya, sumarah (bahasa Jawa), Sumarah adalah sosok perempuan yang penuh sifat pasrah. Dalam tiap lukisannya, Donikabo menampilkan Sumarah berkeredung, sebagai cermin kepasrahan diri perempuan yang bersandar pada atribut keagamaan. 

Mengambil latar belakang Indonesia di tahun 1965, dikisahkan Sumarah adalah sosok perempuan Jawa yang tegar menjalani kehidupan. Satu persatu derita hidup menyapa, dia tetap pasrah menjalani.

Pasrah dijodohkan dengan Mas Marto lantas ditinggal mati lelaki yang belakangan menjadi suaminya itu. Dengan kondisi itu, dia harus banting tulang menghidupi Tun, buah hatinya. 

Derita tak berakhir di sini. Setelah besar, Tun ternyata diketahui hamil di luar nikah lantas menikah dengan Yos yang dibunuh karena dituding terlibat PKI. Tun pun ditahan. Dan kini, tinggallah Sumarah yang harus menanggung penghidupan Ginuk, cucunya. Semua derita hidup, dilalui Sumarah dengan senyum. 

Pembaca karya Donikabo, Hendra Himawan, mengatakan Donikabo mencoba memaknai ulang Sumarah yang disebutnya sebagai cermin kepribadian perempuan Jawa. Di mana sebagai seorang perempuan, ibu dan manusia biasa, Sumarah dipaksa tersenyum dalam berbagai kondisi oleh lingkungan. “Ada ketegangan-ketegangan yang tergambar dalam Sumarah,” kata dia. 

Donikabo, kata Hendra, memang terinspirasi dari Sumarah karya Umar Kayam. Realitas Sumarah itu lantas direnungkan sesuai pengalaman hidupnya. "Kabo dibesarkan oleh ibu yang single parent," kata Hendra bercerita. 

Melalui Sumarah dan pengalaman hidup yang dialaminya, Donikabo lantas membandingkan dengan kondisi perempuan dalam masyarakat saat ini. “(perempuan) harus tersenyum meski sedih, jatuh, tapi harus bangun, hingga menyerah atau bertahan,” kata dia. 

Maka membaca realitas perempuan saat ini tak bisa hanya sepotong, seperti membaca karya Donikabo yang dipamerkan. “Karena itu satu kesatuan,” kata dia. 

ANANG ZAKARIA



Minggu, 15 Mei 2011

Menyelami Figur Perempuan 'Sumarah'nya Doni Kabo

*BANTUL (KRjogja.com)* - Seniman muda asal Banjarmasin lulusan Pasca Sarjana Seni Lukis ISI Yogyakarta, Doni Kabo kembali menggelar pameran tunggulanya bertajuk 'Sumarah' di Sangkring Art Project (SAP) sejak 12 hingga 20 Mei 2011 mendatang . Belasan lukisan dihadirkan Doni Kabo sebagai wujud problematikan dan peran ganda seorang perempuan dengan segala bentuk kepasrahannya. Kurator pameran ini, Hendra Himawan mengungkapkan karya-karya yang dihadirkan dalam pameran ini mengungkapkan dilema perempuan yang seakan tertangkap lugas. Problematika diri ketika dihadapkan pada pilihan antara bekerja dan mengurusi buah hati dihadirkan dalam kadar yang sangat kuat. "Bagaimana jarak yang hadir diantara dua objek meluali figur perempuan dan dot tersebut, memicu perhatian kita untuk melihat dilema itu sebagai sebuah realita yang nyata hadir, sebuah pilihannyang berat tentunya," ujarnya di Sangkring Art Project Galery, Jalan Nitiparayan Bantul, Yogyakarta, Rabu (18/5).

Hendra menjelaskan disatu sisi ia harus bekerja mencari kaleng susu buat anaknya, di sisi lain buah hatinya menuntut tanggung jawab seorang ibu. Dualisme peran inilah yang memungkinkan lahirnya gesture maupun atribut yang mencerminkan identitas tertentu. Singlemother, mungkin adalah identitas yang dapat kita sematkan pada figur karya-karya ini. "Perempuan itu tampak begitu mencermati dot bayi dihadapannya yang mengisyaratkan sebuah intensitas perhatian yang begitu kuat diantara keduanya, namun terdapat jarak diantara keduanya. Membaca gerak dan narasi emotic yang dihadirkan, keberadaan kerudung yang dikenakan sang perempuan sesungguhnya merupakan bentuk ke'sumarah'an dirinya yang berarti kepasrahan atau menyerah. Menyerah disini berarti mengerti dan terbuka tetapi tidak menolak," paparnya. Dalam karya-karya ini, Hendra mengatakan kerudung menegaskan dirinya menjadi simbol kepasrahan diri perempuan yang bersandar pada atribut keagamaan.

"Memandang semua karya Doni Kabo ini, kita diajak untuk menyelami dunia ambang figur perempuan yang dihadirkan merupakan individu yang berada dalam wilayah liminal dari dua dunia yang mereka geluti, baik dunia kultural maupun dunia sosial," urainya. Hendra menambahkan liminalitas dihadirkan Kabo begitu kuat dimana ambiguitas 'Sumarah' dan paradoks antara ibu yang merupakan seoarang perempuan karier dengan bayinya yang disubsitusikan dengan dot dipaparkannya dalam narasi karya-karyanya. 

Beragam atribut yang disematkan dalam figur perempuan dalam karyanya menyiratkan wajah dunia liminal dengan visualitas karya yang monokromatik yang mengesankan labilitas dan keraguan, merupakan citra kuat akan liminalitasnya. Meski ranah liminal yang dihadirkan Kabo dengan tensi yang sangat kuat dengan memndang secara keseluruhan karya-karyanya, pengunjung dapat merasakan struktur narasi kehidupan yang membuat peristiwa dibelakangnya, terkesa rumit namun menjadi dapat dipahami karena dalam tataran dan bingkai simbolis narasi ini dapat mengikuti garis-garis penalaran yang berada pada tataran nisdar sekalipun. Ksatuan tematik hadir dalam masing-masing karya, kesinambungan yang diusung dan keselarasan makna hidup menjadi landasan spiritual tergelarnya pameran kali ini. *(Fir)*

Jumat, 13 Mei 2011

Tafsir Novel Sumarah Dalam Lukisan Doni Kabo


Tafsir Novel Sumarah dalam Lukisan Donikabo
Lukisan sosok Sri Sumarah dalam novel Umar Kayam karya perupa muda Donikabo. (TEMPO/ANANG ZAKARIA)

TEMPO InteraktifYogyakarta - Perupa muda Donikabo, 32 tahun, menampilkan lukisan yang mengangkat sosok Sri Sumarah dalam novel Umar Kayam. Mengambil temaSumarah, enam lukisannya yang berisi sosok perempuan berkerudung dengan gelang dan arloji melingkar di tangannya dipamerkan di Sangkring Art Project Yogyakarta, sepanjang 12-20 Mei 2011. “Ini adalah interupsi saya, bahwa kini Sumarah (lebih banyak murung),” kata Donikabo, perupa kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu.

Mengambil latar bekalang Indonesia di tahun 1965, novel Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam diterbitkan pertama kali pada 1975. Dikisahkan, Sumarah adalah sosok perempuan yang pasrah atawa sumarah dalam bahasa Jawa. Sumarah digambarkan sebagai perempuan yang tegar dengan berbagai derita hidup yang silih berganti menimpa. Pasrah dijodohkan dengan Mas Marto lantas ditinggal mati lelaki yang belakangan menjadi suaminya itu. Dengan kondisi itu, dia harus banting tulang menghidupi Tun, buah hatinya.

Derita tak berakhir di sini. Setelah besar, Tun ternyata diketahui hamil di luar nikah lantas menikah dengan Yos yang dibunuh karena tudingan terlibat PKI. Tun pun ditahan. Dan kini, tinggallah Sumarah yang harus menanggung penghidupan Ginuk, cucunya. Semua derita hidup, dilalui Sumarah dengan senyum.

Pembaca karya Donikabo, Hendra Himawan, mengatakan, Donikabo mencoba memaknai ulang Sumarah, yang disebutnya sebagai cermin kepribadian perempuan Jawa. Ia sebagai seorang perempuan, ibu, dan manusia biasa. Sumarah dipaksa tersenyum dalam berbagai kondisi oleh lingkungan. “Ada ketegangan-ketegangan yang tergambar dalam Sumarah,” ujar Hendra.

Hendra menyatakan, Donikabo memang terinspirasi dari Sumarah karya Umar Kayam. Realitas Sumarah itu lantas direnungkan sesuai pengalaman hidupnya. “Kabo dibesarkan oleh ibu yang single parent,” Hendra menuturkan.

Melalui Sumarah dan pengalaman hidup yang dialami, Donikabo lantas membandingkan dengan kondisi perempuan dalam masyarakat saat ini. “(perempuan) harus tersenyum meski sedih, jatuh tapi harus bangun, hingga menyerah atau bertahan,” ujar Hendra.

Maka, membaca realitas perempuan saat ini, tak bisa hanya sepotong. Seperti membaca karya Donikabo yang dipamerkan. “Karena itu satu kesatuan,” kata Hendra menjelaskan.


ANANG ZAKARIA

Sumarah writer by Hendra Himawan



Pembukaan : Kamis, 12 Mei 2011, Jam 19.00 wib
Pameran dibuka oleh : Bob Six Yudhita
Performance : Pinx Cobra, Latex
Diskusi seni : Jumat, 13 Mei 2011, Jam 15.00
Pameran berlangsung : 12 – 20 Mei 2011

Sumarah dan Liminalitas
Hendra Himawan*

Jarak dan Kerudung
Perempuan itu tampak begitu mencermati dot bayi (tempat minum susu bayi) di hadapannya, mengisyaratkan sebuah intensitas perhatian yang begitu kuat diantara keduanya. Namun mengapa mesti ada jarak diantaranya? Meminjam semiotika Barthes dalam second order semiotic, mungkinkah ada sesuatu yang terjadi antara perempuan dengan dot ini, antara seorang ibu muda dengan bayinya? Andaikan melihat atribut yang dikenakan, tentunya perempuan ini bukanlah perempuan yang biasa, atau ibu rumah tangga yang banyak menghabiskan waktu di sumur dan dapur. Gelang beruntaikan mutiara berikut jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, setidaknya mengisyaratkan sosok perempuan yang ‘berada’, mungkin juga seorang perempuan karier.
Dilema perempuan seakan tertangkap lugas dalam karya-karya ini. Problematika diri ketika dihadapkan pada pilihan antara bekerja dan mengurus buah hati, dihadirkan dalam kadar yang sangat kuat. Bagaimana jarak yang hadir diantara dua objek (figur perempuan dan dot) tersebut, memicu perhatian kita untuk melihat dilema itu sebagai sebuah realita yang nyata hadir, sebuah pilihan yang begitu berat tentunya. Disatu sisi ia harus bekerja mencari sekaleng susu, di sisi lain buah hatinya ‘menuntut’ tanggung jawab seorang ibu. Dualisme peran inilah yang memungkinkan lahirnya gesture maupun atribut yang mencerminkan identitas tertentu. Singlemother, mungkin adalah identitas yang dapat kita sematkan pada figur perempuan dalam karya-karya ini.
Di tengah kegamangan dan dilema yang begitu kuat, pasrah dan menyerah terkadang menjadi sebuah jalan ringkas yang kemudian dipilih. Berpasrah diri pada kenyataan yang ada, sedikit mencoba bangkit, kemudian berlari mencari sandaran. Hal ini adalah upaya-upaya untuk memahami wilayah kesadaran diri dan eksistensi lain diluar dirinya, maka dikenakanlah kerudungnya. Kerudung dimaknai sebagai sebuah penghormatan akan eksistensi Ketuhanan, sebuah kesadaran akan adanya dimensi lain yang mengatur manusia.  Kerudung telah menjadi simbol kebaikan dan ketaatan terhadap sebuah keyakinan. Hampir semua agama menggunakan dan menghormatinya sebagai simbol pakaian yang agung, meski tidak semua menetapkannya sebagai kewajiban.
Membaca gerak dan narasi emotic yang dihadirkan ataupun sebagaimana yang dipaparkan diatas, keberadaan kerudung yang dikenakan sang perempuan sesungguhnya merupakan bentuk ke’sumarah’an dirinya. Sumarah (bahasa jawa) berarti kepasrahan, menyerah. Meminjam istilah Umar Kayam dalam Sri Sumarah dan Bawuk (1975:12), “sumarah” adalah menyerah pasra, tetapi “sumarah” (menyerah) tidak berarti diam saja. Menyerah disini berarti mengerti dan terbuka, tetapi tidak menolak. Dalam karya-karya ini, kerudung sekan menegaskan dirinya menjadi simbol kepasrahan diri perempuan, yakni bersandar pada atribut keagamaan.


Ambang
Memandang semua karya Doni Kabo dalam Pameran Tunggalnya yang bertajuk “Sumarah” di Sangkring Art Project, kita akan di ajak untuk menyelami dunia ambang. Figur perempuan yang dihadirkan  oleh Kabo merupakan individu yang , dalam istilah Victor Turner (1967), berada dalam wilayah liminal dari dua dunia yang mereka geluti, baik dunia kultural maupun dunia sosial. Liminalitas dihadirkan Kabo dalam tensi yang begitu kuat. Bagaimana ambiguitas “sumarah” dan paradoks antara ibu yang mungkin seorang perempuan karier dengan bayinya (yang disubtitusikannya dengan dot) dipaparkannya dalam narasi yang bisa berarti ”neither living nor dead from one aspect, and both living and dead from another“.
Beragam atribut yang disematkan dalam figur perempuan dalam karyanya, pun, menyiratkan wajah dunia liminal. Gelang mutiara, jam tangan dan dot bayi, menunjukkan tegangan peran dan intensitas emosi tersendiri. Hadirnya kerudung yang tidak terpasang dengan baik menyiratkan asumsi dua kutub yang berlainan, budaya santri (religi) dan budaya ‘bukan santri’ (tadisi). Dari sinilah lahir  dunia ‘abangan’, sebuah dunia abu-abu, tidak hitam, pun putih. Visualitas karya yang monokromatik yang mengesankan labilitas dan keraguan, merupakan citra yang kuat akan liminalitasnya. Dunia yang kelabu, dunia ambang, dunia betwixt and between, sebuah dunia yang tanpa struktur.
Meski ranah liminal dihadirkan Kabo dengan tensi yang kuat, andai kita memandang secara keseluruhan karya-karya yang dipamerkan kita akan merasakan bahwa struktur narasi kehidupan yang membuat peristiwa dibelakangnya  terkesan rumit, menjadi  dapat dipahami karena dalam tataran dan bingkai simbolis, narasi ini dapat dirangkai mengikuti garis-garis penalaran yang berada pada tataran nirsadar sekalipun.
Dalam perspektif nalar jawa (Javanese Mind) -perkenankan penulis menggunakannya- melihat karya-karya ini tampak sebuah konsepsi atau cara nalar “orang Jawa” menampilkan kelenturan, tatanan (order) serta pandangan bahwa segala sesuatu harus temata (tertata). Dan ketertataan ini mempunyai tiga komponen yaitu kesatuan (unity), kesinambungan (continuity) dan keselarasan (harmony), dan inilah yang ingin diungkapkan oleh Kabo lewat karya-karyanya. Bagaimana kesatuan tematik hadir dalam masing-masing karya, kesinambungan narasi yang diusung, dan keselarasan makna hidup yang menjadi landasan spiritual tergelarnya pameran “sumarah” kali ini.


*Penulis adalah rekan seniman di kampus Pascasarjana ISI Yogyakarta, tinggal dan bekerja di Yogyakarta.

Kamis, 28 April 2011

Ironi Sang Penari Ronggeng #abstraksi



THE IRONY OF RONGGENG DANCER 

by : Rifky Effendy



Today we give on to paintings created with mixed media. Using digital photography, Doni Kabo is exhibiting paintings of a dancer in different body movements. Perhaps, it is my first time to see the subject of female dancer in paintings created by the artist, who at present attends post-graduate program in the Indonesia Institute of Arts-Yogyakarta. This series of works features a woman named Srintil, a Ronggeng dancer who is accused of being a supporter of Indonesian Communist Party in Ahmad Tohari’s trilogy novels: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, and Jentera Bianglala. These three novels tell about internal struggle of the dancer who lives in a society that is still very traditional. 

In the first novel of this Srintil Trilogy, Ronggeng Dukuh Paruk, the story has setting of time and place of Indonesia around 1965 within a very “low-cultured” society of Javanese people in. It depicts the simple life of the society who has not been contaminated by modernization. There is even no religion except the indigenous belief known as kejawen that is so peaceful. In sexual issue, virginity for most women is a purity that was given to husband only. Yet, for certain groups of people like Srintil, it serves as a means of deciding a woman worth becoming a ronggeng dancer. Such situation is constructed by not only men who want to taste the virginity but also women who want to accomplish a glamorous life.

Senin, 26 April 2010

Doni Kabo – Mewarnai Hitam, Melampaui Suram

Jakarta Art District kembali melakukan pameran rutinnya yang dilakukan di Hall pameran Utamanya, pameran kali ini adalah giliran Langgeng Gallery, Gallery yang berada di Magelang ini sudah cukup terkenal dengan berbagai penyelenggaraan pameran seni yang terkenal, akan tetapi entah karena berbenturan dengan 3 event yang Langgeng lakukan atau tidak, pameran Doni Kabo berjudul ‘Mewarnai Hitam, Melampaui Suram’ ini seakan terabaikan, bukannya tanpa sebab saya mengatakan seperti ini, saat saya datang kesana ternyata pameran ini seperti sedang tidak ada pameran, tidak ada tanda khusus kecuali tergantungnya lukisan Doni Kabo disana..tidak ada judul pameran, tidak ada kalimat pembuka/sambutan, bahkan tidak ada katalog yang disediakan, bagaimana ini Langgeng Gallery?
'Mencekam Dua' - Bitumen Oil on Canvas-150x260cm(2panel)-2010
'Melampaui Suram Tiga' - Bitumen Oil On Canvas-200x150cm(2panel)-2010
Exhibition Name :Mewarnai Hitam, Melampaui Suram
Place : Jakarta Art District (Exhibition by Langgeng Gallery)
Curator : Alia Swastika
Time : 8 April – 20 April 2010
Artist : Doni Kabo

Sabtu, 24 April 2010

Mewarnai Hitam, Melampaui Suram . Alia Swastika


Oleh: Alia Swastika


February 2010, di New Delhi terbit sebuah majalah seni rupa baru yang edisi pertamanya menampilkan “hitam” sebagai tema utama. Saya membacanya dengan penuh rasa penasaran, terutama karena saya ingin melihat bagaimana hitam dilihat sebagai sebuah isu yang jauh melampaui maknanya sekadar sebagai warna, melainkan sebuah representasi identitas. Dalam pengantar editorialnya, disebutkan bahwa hitam mungkin menjadi kata yang punya terlalu banyak makna dalam ranah kajian budaya kontemporer. Khusus dalam konteks penerbitan itu, Shaheen Merali, editor tamu, menyatakan bahwa hitam mempunyai banyak asosiasi dengan terma-terma negatif, terutama berkaitan dengan politik identitas. Hitam merujuk pada “sang liyan” (the other), sesuatu yang dilawankan dengan putih (yang acap diasosiasikan sebagai aras utama [mainstream]).

Secara singkat, inilah bagian dari tafsir Shaheen Merali atas warna hitam: “sebagian besar aura yang melingkupi kata hitam ini muncul dari rekaman histories yang berkaitan dengan perjuangan untuk mendapatkan kesamaan hak dan pembebasan filosofi, sebuah model yang membuat bahasa dan kekuatan semiotis digunakan sebagai apparatus untuk menekankan tindakan politis dan keberpihakan. Hitam adalah kata yang merujuk pada ancaman, seolah membawa ingatan atas kekejaman, dan mengikat pada sang liyan.”

Di tengah kepungan makna yang meluas atas “hitam” itu, saya bertemu dengan karya-karya Doni Kabo. Tentu saja, yang segera menautkan dua pengalaman itu adalah bagaimana saya menggarisbawahi HITAM. Berbeda dari tafsir hitam dalam majalah TAKE, yang saya temukan pada karya lukisan Doni Kabo ini adalah keberadaan hitam sebagai warna. Ia, yang hadir hanya sebagai hitam, tanpa ada pretensi untuk menjejalkan makna-makna lain yang kadang membentuk labirin yang kompleks.

Hitam memang warna yang sangat dominan dalam pameran tunggal Doni Kabo kali ini.  hampir dua puluh lukisan yang dibuatnya dalam kurun waktu tiga minggu semuanya menekankan hitam sebagai kata kunci visualnya. Tentu saja, karena sedemikian pekat dan intensnya ia mengolah hitam, kita bisa melihat bagaimana ruang pamer menjadi mencekam. Barangkali, beberapa akan melihatnya suram atau kelam. Tetapi itulah, dengan cara tertentu, mungkin dengan sedikit berliku, Doni Kabo menawarkan pada kita petualangan yang berbeda, yang lebih penuh misteri. Karena, barangkali, meski akan terkesan sedikit menggampangkan, dunia seni mainstream kita dipenuhi oleh gambar beraneka warna, penuh dengan simbol-simbol yang menuntut kita untuk mengartikan dan memberinya tempat tertentu dalam konteks kultural kita. Doni Kabo cuma punya dua warna, hitam dan putih, yang kadang ia baurkan menjadi coklat atau semacam putih yang berkilau perak. Dalam konteks itu pula, saya melihat bagaimana seniman mencoba bergulat dengan hitam karena di situlah ia menyimpan banyak tantangan; hitam adalah titik di mana warna acap dianggap tidak ada.

Saya juga tidak melihat Doni Kabo sebagai bagian dari seniman yang tidak suka  membubuhkan banyak simbol yang bisa diartikan untuk memberi kita tantangan-tantangan semiotika. Yang saya rasakan, Doni Kabo menghayati betul prosesnya melukis. Ia sedang bergulat dengan definisi dan batasan-batasan tentang lukisan itu sendiri. Baginya, kanvas itu barangkali semesta yang masih kosong, yang tidak perlu untuk diisi dengan terburu, karena setiap benda akan punya makna sendiri pada akhirnya nanti. Maka, kita bisa melihat bagaimana kanvas lukisan Doni Kabo hampir semuanya terdiri atas objek tunggal, atau kadang-kadang dua atau tiga objek, dengan latar belakang hitamnya yang lebih dominan terserap oleh mata kita. Dan yang digambar pun sesuatu yang mungkin tak universal, yang tidak dengan begitu saja menautkan pengalaman setiap penonton dengan subjek yang sedang dihamparkan di sana. Kita runtut saja tiga subjek tersebut; ikan hiu, foto dari Yustoni Volunteero, dan semacam gambar lanskap yang disandingkan dengan bentuk figuratif.


*****



Sebagaimana selalu, ada pertanyaan-pertanyaan klasik, mengapa ikan hiu? Mengapa wajah Toni Volunteero? Mengapa bangunan-bangunan tanpa manusia? Doni Kabo sendiri tidak menyebut alasan yang spesifik atas pemilihan subjek-subjek tersebut. Ikan hiu, misalnya, tidak dipilih karena makna semiotiknya. Kesan saya, Kabo memang lebih memilihnya secara acak di antara banyak kemungkinan objek yang lain. Tentu saja, persepsi yang telah ada tentang ikan hiu sendiri, mempunyai kaitan yang cukup dengan alasan memilih hiu sebagai subjek. Dengan kesan atas hitam yang mencekam dan gelap, maka pilihan atas hiu menjadi terasa punya alasannya sendiri, karena entah mengapa, mulut-mulut hiu yang terbuka lebar itu, seperti menawarkan satu cekaman yang lain. Membuka bilik misteri selanjutnya, yang berlanjut dari misteri yang telah dibuka di awal oleh warna hitam tadi.

Pada awalnya, menuliskan catatan ini, saya mencoba juga memberikan arti yang lebih pada si subjek: ikan hiu. Saya mencoba juga mencari di google, sedikit belajar tentang ikan hiu. Setidak-tidaknya, saya mencoba mengerti karakteristik tertentu dari ikan hiu yang membuatnya lebih memiliki konteks ketika tubuhnya dicomot dan diletakkan di sebuah bingkai kanvas. Tetapi, nyatanya, saya tidak merasakan ada makna-makna semiotis yang perlu saya lekatkan pada ikan hiu yang digambarkan Kabo. Kenyataannya, si ikan hiu itu merepresentasikan keberadaannya saja, sebagai binatang, sebagai subjek yang bisa digambar. Tentu saja, dalam literature itu disebutkan bahwa hiu adalah sejenis ikan pemangsa yang mempunyai rahang dan gigi yang sangat kuat, sehingga binatang ini selalu dikategorikan sebagai hewan berbahaya. Dalam kanvas Kabo, mulut-mulut hiu yang menganga lebar itu memang memberi satu tambahan misteri lagi, sesuatu yang seakan mengajak kita untuk menyuruk masuk dalamnya. Mulut yang terbuka seperti gua, yang gelap, dalamnya tak terduga tetapi membawa kita ingin menghayati yang suram dan kelam itu.

Subjek keduanya, yaitu wajah Yustoni Volunteero (selanjutnya akan saya sebut sebagai Toni), seorang teman baik Kabo yang juga merupakan seniman visual, sebenarnya ditempatkan pada posisi yang sama dengan sang ikan hiu. Berbeda dengan kecenderungan seniman untuk mengeksplorasi potret diri—yang pernah juga dilakukan oleh Kabo pada pameran sebelumnya—atau wajah-wajah yang ikonik, Kabo memilih wajah yang cenderung akrab dengannya. Ia memang sering bertemu dengan Toni, terutama sebagai teman diskusi membahas berbagai hal, termasuk di antaranya tentang praktik-praktik kesenian yang mereka jalani. Kabo tidak punya pretensi menempatkan Toni sebagai tokoh penting dalam seni rupa, misalnya, meskipun Toni punya peran dan posisinya sendiri dalam sejarah seni rupa di Indonesia. Ia hanya menggambarkan Toni dengan intensitas yang penuh, tidak terlalu peduli pada ekspresi atau representasi diri, karena Toni hadir sebagai “sekadar” subjek. Ia lebih menggarap hal-hal detai berkaitan dengan elemen visual dalam lukisan itu sendiri: tekstur, warna, bayangan, garis batas, dan sebagainya. Barangkali, secara tak sadar, dengan cara tertentu, ada percakapan tak langsung yang membuat Kabo mendapatkan refleksi diri dari proses menggambar wajah Toni. Proses pencerminan diri ini merupakan satu cara pembacaan yang nyaris klasik, karena menganggap bahwa setiap proses menggambar wajah adalah modus refleksi diri.

Subjek ketiga agak berbeda dengan subjek satu dan dua. Jika subjek hiu dan wajah Toni menjadi subjek tunggal yang memenuhi hampir seluruh kanvas, maka subjek ketiga merupakan penggabungan dari imaji lanskap—potongan satu atau beberapa bangunan yang menyerupai sudut sebuah kota—dengan subjek figuratif. Bangunan-bangunan ini berdiri sebagai representasi benda mati; karena seperti tak ada kehidupan di sana. Tak ada sosok manusia, tidak ada tanda-tanda seperti sesuatu hidup dan bertumbuh di dalamnya. Berbeda dengan subjek hiu yang menggunakan hitam sebagai latar belakang warna, pada subjek lanskap ini Kabo memilih menggunakan warna perak sebagai latar, sementara hitam menjadi penanda garis pada bangunan-bangunan itu. hitam, yang terkesan sedemikian megah pada subjek-subjek awal, kemudian makin berkurang intensitasnya pada tema lanskap ini. Warna hitam bertransformasi menjadi bagian dari subjek itu sendiri, bukan lagi latar belakang.

Karena warna dan narasi subjeknya yang cenderung minimal, sepintas lalu karya-karya Kabo ini memang menawarkan sesuatu yang terkesan hampa. Pada dasarnya kita bisa mempertanyakan, apakah hampa ini sama dengan kosong sama dengan tak bermakna? Kabo tidak berbicara tentang “yang kosong”, ia berbicara tentang sesuatu yang tidak diisi penuh, yang menyisakan ruang-ruang yang luas untuk berimajinasi sendiri tentang makna-makna. Kita dihadapkan pada ketidakbermaknaan. Kita berfantasi melampaui narasi. Pasca-narasi.

******

Memandangi lukisan Kabo, kita bisa melepaskan diri dari upaya-upaya mencari pesan atau makna dari sang subjek. Eksperimentasinya atas teknik dan medium—harus dicatat bahwa ia menggunakan ter, atau plikut (bahan pembuat aspal) sebagai pengganti medium konvensional seperti cat akrilik, cat minyak atau arang—membuat karyanya penuh dengan detail yang mengejutkan. Ada nuansa warna yang berbeda, terutama dari campuran warna dasar bahan-bahan yang tidak biasa itu. Dari sini, ketimbang sibuk merangkai makna atas subjeknya, saya lebih menikmati eksperimentasi teknik dan medium yang sedang diupayakan oleh Kabo ini. saya melihat bahwa Kabo berjuang untuk mendapatkan hasil terbaik dari setiap eksperimentasi yang ia lakukan dengan ketekunan, konsentrasi dan intensitas yang berharga untuk dibela.

Dalam suatu perbincangan, Doni Kabo menyatakan pada saya ia sedang memperjuangkan eksperimental art. Di luar bahwa kata “experiment” sendiri dalam ranah sejarah seni sudah menjadi satu konsep yang sedemikian kompleks hingga dapat disebut sebagai satu genre tersendiri, Kabo tampaknya menekankan kata ini sebagai sebuah proses, bukan definisi. Pengertian eksperimentasi sendiri secara global telah meluas mencakup sebagai upaya menemukan bentuk seni baru, yang terutama menerobos batasan teknik, medium, aliran dan kecenderungan formalisme. Dengan cara tertentu, Kabo memang terasa kembali pada ‘formalisme’ dalam pengertian ia memperjuangkan elemen visual yang fundamental dari sebuah lukisan; yakni tekstur, warna, dan komposisi. Belakangan, kerja-kerja yang semacam ini bukan merupakan pendekatan yang cukup populer dalam wilayah seni rupa kontemporer. Akan tetapi, bagi Kabo, formalisme adalah semacam cara untuk keluar dari aras utama dari kecenderungan seni rupa Indonesia. Ia berusaha memberi makna baru pada tindak melukis. Secara personal, ia melihat bahwa kerja melukis adalah usaha terus menerus untuk melakukan terobosan, meski dalam batasan yang lebih sempit, ihwal pengalaman personalnya sendiri tentang lukisan. Tentu saja, mencari apa yang baru dalam kancah seni memang menjadi hal yang seperti mustahil karena seolah segala hal pernah dilakukan oleh yang lain. Oleh karena itu, saya kira, percobaan-percobaan seniman kontemporer pada dasarnya bukanlah sebuah usaha untuk menemukan apa yang ‘baru’, melainkan menyatakan sebuah karakter yang khas atau sesuatu yang melampaui batas zaman. Baru atau tidak baru adalah dua perkara yang berbeda.

Selama menggunakan ter sebagai medium utama lukisannya, bukan soal bahwa apakah pelukis lain pernah menggunakan ter atau tidak yang dipermasalahkan oleh Kabo. Yang ia rasakan dan ia hayati, justru barangkali berbeda dengan apa yang dibayangkan sebelumnya, adalah ia bertemu dengan “sensasi bau”. Lepas dari “posisi”-nya sebagai medium alternatif, Kabo bertemu dengan bau yang kuat dan pekat, yang dirasakan oleh indera penciumannya. Selama proses melukis yang intensif, hampir dua minggu tanpa istirahat yang benar-benar cukup, dua inderanya, yakni mata dan hidung bekerja bersamaan. Sensasi bau, barangkali tidak secara langsung mempengaruhi proses melukis itu sendiri, tetapi ada situasi-situasi baru, entah membebaskan entah membatasi yang ia ciptakan di sana. Eksperimentasi dalam mengatasi sensasi-sensasi ini juga menjadi hal ia catat, bahwa imajinasi visual bisa dirangsang oleh sesuatu yang lain.

Keterbatasan warna yang dapat dihadirkan oleh medium itu sendiri juga menjadi tantangan yang harus ia atasi. Ia membuat modus-modus bayangan sebagai cara untuk menghadapi kontras dari warna yang terbatas.


Kembali lagi pada pokok soal hitam, saya melihat bahwa percobaan atas keterbatasan, sekaligus keleluasaan warna inilah yang menjadi eksperimentasi berharga dari tindak melukis Kabo. Bagi penonton sendiri, barangkali warna hitam memang cenderung membawa suasana yang dramatis karena ia mencekam dan menguasai bawah sadar kita. Tetapi, barangkali, warna hitam ini juga membuka ruang-ruang tertentu pada kenangan dan mimpi; sebuah perjalanan menuju angkasa, lingkup yang pekat dari imaji atas semesta.