Selasa, 18 November 2014

Good bye Lenin. My dream, my power, my paint - One Gallery 2008. Arsip buku Dr Melani W. Setiawan





Judul: Good bye Lenin
size: 150cm x 300cm 
media: oil, acrylic on canvas 
2008 


Foto kenangan ini ketika pameran bersama, "My dream, my power, my paint" di One Gallery, Jakarta. 

Pada karya tersebut bercerita tentang seni tak lepas dr hidup dan lingkungannya, dan akan melahirkan seni yang hidup juga. Seni mencerahkan sisi pandang yang lain, mungkin keindahan akan membuatmu menciptakan apa saja yang menjadikan karya itu kuat, gagah, liar, tegar, penuh semangat dan menginspirasi. keindahan itu bukan hanya yang menentramkan mata, namun juga bisa yang menohok mata, hati dan rasa. Mengganggu namun kita tak mampu berlalu, ada sesuatu yang tak di mengerti namun kita tak bisa berhenti mencari. 

Foto ini terpilih untuk buku Dunia Seni Rupa Indonesia (The Archive Indonesian Art World) karya Dr. Melani W. Setiawan. Ini merupakan arsip personal dari Dr. Melani W. Setiawan yang menampilkan foto kenang–kenangan Dr.Melani dengan para seniman yang di temuinya. Menurut Melani, isi buku itu tidak lain kompilasi dari dokumentasi personalnya selama 30 tahun yang dikumpulkan kembali. Foto-foto sejak tahun 1977 tersebut mendokumentasikan peristiwa kisah-kisah perkembangan dunia seni rupa Indonesia yang merupakan bidang ketertarikan Melani.

Sebagai seorang pecinta seni, ia pun masuk ke lingkaran dalam para seniman, kurator, dan kritikus seni Indonesia. "Kedekatan dengan para seniman inilah yang membuat saya bisa belajar memahami karya sni dan pemikiran di baliknya," tambah Melani.

Peluncuran buku ini dilangsungkan bersamaan dengan pembukaan pameran Re.claim di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta pada tanggal 8 April 2012






Tautan:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/04/seni-rupa-indonesia-dari-mata-publik
http://news.indonesiakreatif.net/diskusi-the-archive-indonesian-art-world-dr-melani-w-setiawan/
https://archive.org/details/DuniaSenirupaIndonesiadrMelaniSetiawan
http://thejakartaglobe.beritasatu.com/archive/new-book-reclaims-local-art-scene/
http://www.scribd.com/doc/92393329/120414-Melani-Setiawan-Art-Archive-Bk

Minggu, 09 November 2014

CV

Doni Kabo
Banjarmasin, 10 Nopember 1980
Jl Kaliuarang km 7, Klaseman I no 51, Sleman
Yogyakarta
081215172020

Education
FSRD Seni Murni ITB
Pasca Sarjana, Seni Lukis ISI Yogyakarya

Art Award/ Project/ Residency          
2013    Art Project, Super Realis, PPS ISI, Jogja
2012    Art Award, Festival Budaya GKR Pembayun, Jogja
            Art Project, Festival Kesenian Jogja, Post Tropic, Keloran Studio, Jogja
2011    Art Project, Sang Rumah, Kersan Art Studio, Jogja
2010    Art Residency, UCAS, Post Graduet ISI, Jogja
2008    Art Project, Red District Project, Koong Galery, Jakarta
2007    Art Project, Self Portrait, Museum dan Tanah Liat, MDTL Jogja
2006    Art Street Performance, ”Ontogenesis”, Bandung
2005    Art Award, Gambar Anak Nelayan Pulau Natuna, Kep. Riau
2004    Art Progam, Manejemen Seni, Potluck Library & Gallery, Bandung
2003    Art Award, Mural Merdeka, Universitas Paramadhina, Jakarta

Solo Exhibition
2013    “GUY”, Miracle Corner, Jogjakarta
2012    “Opera Cahaya, Pintu, Kursi”, Bentara Budaya, Jogjakarta
2011    “SUMARAH”, Sangkring Art Project, Sangkring Gallery, Jogjakarta
            “Ironi Penari Ronggeng”, Langgeng Gallery, JAD, Jakarta
2010    “Mewarnai Hitam”, Langgeng Gallery, JAD, Jakarta
2009    “Attacked By Rats”, Stencil artshow, +/- Gallery Unkl347, Bandung  
2008    “Too Many People”, Museum dan Tanah Liat, MDTL, Jogjakarta
2007    “Smash The Disco”, Soemardja Gallery ITB, Bandung
2006    “Bukan Paris”, Common Room Foundation, Bandung
2005    “Hey Ho Let’s Go!”, Stencil artshow, 18thPark Conspiracy, Bandung

Selected Group Exhibition
2014    “Geneng Street Art Project”, Ruang Kelas SD Galeri, Jogja
“Welcome to the Strong Koboy”, Arcaf, Jogja
“Cut n Remix”, Festival Kesenian Yogyakarta, Jogja Galeri, Jogja
“Murni”, Jogja National Museum, Jogja
“Gento Merdeka”, Jogja National Museum, Jogja
2013    “Hayuning Bawono”, galeri Surabaya, Balai Pemuda, Surabaya
            “Urban Arr2”, Pelita Hati Gallery, KL, Malaysia
            “Pameran Bersama”, Asrdrafi, Jogja
2012    “Sumpah Pemuda”, Jogja National Musium, Jogja
“Karya Untuk Kawan #4” Art for solidarity, Galeri Nasional, Jakarta
“Badai Asmara”, ICAN, Jogja
“Ape Man Malioboro # 3”, Dinas Periwisata, Jogja
“Candu Canda”, Museum H. Widayat, Magelang
“Masa Depan Kita”, Festival Kesenian Jogja, Kelompok Post Tropic, Jogja
“Eksplorasi Bentuk”, Kelompok Deka-exi(s), Kandang Menjangan, Krapyak, Jogja
“Keloran Bersih”, Studio Post Tropic, Keloran, Jogja
“Hitam Putih Indonesia”, Post Tropic, Barak Seni Stefan, Jogja
2011    “Mainkan Rasa”, Gallery Studio Rosid, Bandung
“Guyub Rukun”, Tembi Rumah Budaya, Jogjakarta
“Speak Up” Jogja National Museum, Jogjakarta
            “Expressive”, Gallery Biasa, Jogjakarta
            “Cross Over”, 7 Bintang Art Space, Jogjakarta
            “ApeMan” Jogja Kepatihan, Malioboro, Jogjakarta
            “Drawing Revolution”, DGTMB gallery, Jogjakarta
            “Empty Space”, Farhan Adityasmara, UCAS, Pascasarjana ISI, Jogjakarta
2010    “Masih Ada Gusdur”, Langgeng Gallery, Magelang
            “Muka”, Artesan gallery, Singapore
            “Jogja Art Share”, Jogja National Museum, Jogjakarta
            “Malioboro Kali Code”, Progo, Malioboro, Jogjakarta
            “Sehari Boleh Gila”, Pascasarjana ISI, Jogjakarta
2009    “The Larder”, Sixtymillionpostcards gallery, Bournemouth, England
            “3rd Friendship Art Exhibition”, National Gallery Bangladesh, Dhaka
            “My Dream, My Power, My Pain”, One Gallery, Jakarta
2008    “Mimpimimpi buruk”, Gallery teh, Taman Budaya, Bandung
            “Outsider”, Jogja National Museum, Jogjakarta
            “Red District Project”, Koong Gallery, Jakarta
            “Infected Brain”, Gallery Surabaya, Surabaya
            “Animal Issue”, Juene Release Party, Rumah Buku, Bandung
            “Incarnation”, Gallery UK Maranatha, Bandung
            “Kursikursi”, Gerbang Utama ITB, Bandung
2007    “Tanpa Alas Kaki”, Taman Ganesha, Bandung
            ”Anakanak Nelayan”, Natuna, Kepulauan Riau
            ”Ontogenesis”, Gedung AACC, Bandung,
            ”Ontogenesis”, Taman Budaya Yogyakarta, Jogjakarta
            “Selendang dan Perempuan”, Potluck Library, Bandung
            ”X Noize”, Universitas Pasundan, Bandung
            “Teks Unfinished”, Prefere72, Bandung
            ”Tutup Mulut Putu Wijaya”, Prefere72, Bandung
            “Musim Semi Para Penyair”, CCF, Bandung  
2006    “Multiorgasme”, Jembatan Cikapayang, Bandung      
            “Nyai Ontosoroh”, STSI, Bandung
            “Poster Pramudya Ananta Tour”, STSI, Bandung
            “SexSux”, Potluck Library, Bandung
2005    “Lama Sabhaktani di Avesta”, Makam Pahlawan, Bandung
            ”Seribu Pelukan”, Dago, Bandung

            ”Mural Merdeka”, Universitas Paramadhina, Jakarta

Merusa

Merusa
100cm x 150cm
Acrylic on Canvas
2012

Poster Solo Exhibition

2013    “GUY”, Miracle Corner, Jogjakarta

2012    “Opera Cahaya, Pintu, Kursi”, Bentara Budaya, Jogjakarta

2011    “SUMARAH”, Sangkring Art Project, Sangkring Gallery, Jogjakarta 
          2011  “Ironi Penari Ronggeng”, Langgeng Gallery, JAD, Jakarta

2010    “Mewarnai Hitam”, Langgeng Gallery, JAD, Jakarta

2009    “Attacked By Rats”, Stencil artshow, +/- Gallery Unkl347,Bandung 
2008    “Too Many People”, Museum dan Tanah Liat, MDTL, Jogjakarta


Sabtu, 12 Oktober 2013

Sebuah 'Pesan' - Mengeja Doa-doa Art Exhibition


Sebuah ‘Pesan’


Bukan tanpa sengaja aku mendengar lagu Raindrops Keep Falling on My Head, yang dinyanyikan oleh B.J Thomas ini. Pagi tadi, teman kantorku mendadak bertanya soal siapa penyanyi lagu yang sering kami dengar tapi tidak pernah tahu siapa yang menyanyikannya.
Bermodal laptop dan sambungan internet, aku pun menjelajah dunia maya. Googling sebentar dengan mengetikkan judul lagunya, dan tanpa kendala aku menemukannya. Liriknya, nama penyanyinya, sekaligus klip videonya. How internet could be that helpful!
Sambil menyampaikan kabar ke temanku tadi, aku mengamati liriknya, ikut bernyanyi bersama B.J Thomas yang klipnya aku putar sekalian (ya, setelah streaming yang lumayan lama.. maklum, lemot!), sampai akhirnya aku teringat sesuatu. Bukan hanya tentang lagu itu, tapi juga betapa sebuah lagu akan memberikan makna yang berbeda jika didengarkan pada saat-saat yang berlainan. Mungkin lagu itu sekadar lagu biasa, yang hanya indah didengar, tapi tak berefek apapun juga. Tapi sebuah lagu, bisa jadi, menggugah sesuatu dari dalam hati, lalu memberikan semangat dan efeknya luar biasa untuk memunculkan senyum.
Teman baikku, Indah Wd, pernah bilang: “The right message will come along to our lives at the perfect time, somehow, someday.” Yang bila diterjemahkan dengan bebas adalah ‘pesan-pesan’ yang tepat akan mengunjungi kita di saat yang tepat ketika kita benar-benar membutuhkannya.

‘Pesan-pesan’ itu bisa berupa apa saja.
Seperti tulisanku yang kemarin, Sebuah Novel dan Penulisnya, ternyata membantu seorang teman penulis yang sedang kehilangan semangat untuk menulis karena merasa terintimidasi dengan karya-karya orang lain yang dianggapnya jauh lebih bagus. Aku bilang padanya, seperti yang sudah aku tulis di tulisanku kemarin, kalau sebuah karya pasti akan memiliki golongan peminatnya sendiri. Setiap tulisan memiliki ciri khas masing-masing. Jadi? Tetap berkarya. Menulis dari hati akan memberikanimpact yang luar biasa, kelak. Tenang saja!
Kadang, ‘pesan’ itu juga muncul di sebuah kaos seseorang yang sama-sama menumpang sepeda motor seperti seorang teman dan suaminya. Ketika berboncengan ke kantor, dia melihat seorang pengemudi sepeda motor memakai sebuah kaos yang bertuliskan ‘pesan’ untuknya. Dia lupa apa tulisan persisnya, tapi yang dia ingat, tulisan itu adalah tentang TERSENYUM. Temanku bilang, “Bener, deh, La. Tulisan itu mengingatkan aku kalau senyum itu memang nggak pake modal, tapi ngasih efek yang luar biasa buat aku dan sekelilingku…” Dan bukan kebetulan kalau saat temanku melihatnya, dia sedang susah tersenyum karena memiliki banyak masalah, kan?

Apalagi, ya?
Sepertinya akan lebih menyenangkan kalau kamu membantu aku mencari contoh-contoh yang lain, deh.. :)
Nah, the right message memang akan datang di saat yang tepat. Exactly kapan kita membutuhkannya. Tanpa sadar, seluruh dunia akan berkonspirasi untuk mengajakmu bangkit lagi, make a change, take a step, dan mulai menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Tulisan di kaos, membaca sebuah artikel yang tepat menyentuh hati, melihat papan reklame, melihat seseorang di pinggir jalan, bercakap-cakap dengan seseorang, atau ini.
Seperti lagu yang tadi aku dengarkan, aku nyanyikan lariknya, dan kumaknai setiap kalimatnya, menjadikan aku sebagai perempuan yang tak ingin terlalu dimanjakan rasa sedih. Perhatikan liriknya dan kamu akan tahu kenapa aku bilang begini.

“Raindrops keep fallin’ on my head
And just like the guy whose feet are too big for his bed
Nothin’ seems to fit
Those raindrops are fallin’ on my head, they keep fallin’

So I just did me some talkin’ to the sun

And I said I didn’t like the way he got things done
Sleepin’ on the job
Those raindrops are fallin’ on my head, they keep fallin’

But there’s one thing I know

The blues they send to meet me won’t defeat me
It won’t be long till happiness steps up to greet me

Raindrops keep fallin’ on my head

But that doesn’t mean my eyes will soon be turnin’ red
Cryin’s not for me
‘Cause I’m never gonna stop the rain by complainin’
Because I’m free
Nothin’s worryin’ me…”

Ada sedikit selaput air mata yang membayang di permukaan bola mataku, tapi mendengarkan lagu ini seperti memberi energi yang sangat kuat untuk terus tersenyum.
‘Raindrops’ akan terus berjatuhan, tapi aku tidak akan banyak komplain tentang keadaan. Tidak berarti kedua bola mataku bakal berubah menjadi merah lalu menangis hebat.
Dan lagu itu semakin mencerahkan hari ketika sebuah liriknya berkata, “The blues they send to meet me won’t defeat me. It won’t be long till happiness steps up to greet me.”

Ya.

Aku tidak akan menyerah.

Bersabar saja.

Jadi, jadi.

Sekarang kamu percaya, kan, kalau ‘pesan-pesan’ itu akan datang di saat yang paling tepat? Karena kalau tidak, lagu seperti ini akan lewat begitu saja tanpa kumaknai sedikitpun kalimatnya…

Bagaimana dengan kamu? Sudahkah sebuah ‘pesan’ datang kepadamu hari ini?
***

Kantor, Rabu, Oktober 2013, 10.31 Pagi
Makasih, ya, INdah…

Senin, 29 April 2013

Panjangnya Bukan Kepalang - Pameran Tunggal 'Ojo Dumeh' Cahaya Novan,




"Ojo Dumeh"
Cahaya Novan
Miracle Art Space Yogyakarta
2013


PANJANGNYA BUKAN KEPALANG

"Ular naga panjangnya bukan kepalang/ Menjalar-jalar selalu kian kemari/Umpan yang lezat itulah yang dicari/Ini dianya yang terbelaaaa....kang!"
Lagu ini mungkin sering kita nyanyikan ketika kita masih kecil sambil bermain dengan riang gembira dengan teman-teman.. namun, siapakah ular naga ini?

Pada karya Novan Cahaya, Seniman kelahiran Jogjakarta 25thn lalu ini, bisa kita lihat ada 2naga di sisi kanan dan kiri ikut meramaikan karya lukisnya pada pameran tunggalnya kali ini. Setelah saya teliti ternyata motif, bentuk dan rupanya tersebut adalah rupa ular naga Jawa yang serupa dengan naga yang terdapat pada gamelan gong Jawa. Motif hias ular naga pada gong Jawa tersebut posisisnya selalu bertolak belakang , bagian ekornya selalu ada di tengah, hal tersebut merupakan simbol dunia bawah yang turun dari dunia atas. Hal ini menunjukkan bahwa Ular Naga ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan simbol dunia-dunia spiritual masyarakat jawa dan dihormati. Orang Jawa percaya bahwa 8 penjuru mata angin di jaga oleh naga. Naga mempunyai 8 keistimewaan , menyembur, menggigit, melilit, kuat, bisa hidup di air dan darat , meronta, bertukar kulit, bisa hidup dari minyak yang disimpan di ujung ekornya.

Ular Naga ini bagi petani jawa adalah makhuk yang dianggap sakral, Ular Naga ini adalah jelmaan Dewi Sri yang dalam kehidupan sehari-hari menjelma dalam bentuk ular sawah. Hal ini tertulis dalam serat babad ila-ila disebutkan : Dewi Sri dan Raden Sadhana adalah kakak beradik. Karena mereka tidak mau tinggal di kraton, maka oleh ayahandanya Prabu Purwacarita mereka dikutuk, Dewi Sri menjadi ular sawah dan Raden Sadhana menjadi burung Sriti. Kemudian mereka pergi entah kemana. Perjalanan dewi Sri atau ular sawah lebih banyak halangan daripada raden Sadhana sebagai burung Sriti . Akhirnya Ular sawah sampai di negeri wirata, berhenti sebentar didusun Wasutira lalu tidur melingkar ditengah-tengah padi. 

Didusun Wasutira inilah Ular sawah diletakkan di Petanen. Ular sawah itu nantinya akan menjaga bayi yang dikandung oleh Ken Sanggi atau istri dari Kyai Brikhu, sebab bayi yang dikandung itu adalah titisan Dewi Tiksnawati. Apabila ular itu mati , maka bayi itu juga akan mati. Demikianlah pada malam hari Ken Sanggi melahirkan anak perempuan dengan selamat. Maka Kyai Brikhu dalam memelihara ular sawah itu sangat berhati-hati jangan sampai mati. Sewaktu Kyai Brikhu tertidur , ular sawah itu seakan-akan berkata agar jangan diberi makan katak melainkan sesaji berupa sirih ayu, bunga serta lampu yang menyala terus. Setelah kyai Brikhu terbangun dari tidur langsung menyiapkan sesaji seperti apa yang diminta ular sawa tadi. Dewi Tiksnawati yang menitis pada tubuh bayi itu membuat huru hara di SBY, tempat kediaman dewa-dewa karena Dewi Tiksnawati tanpa memberi tahu atau ijin dari Sang Hyang Jagadnata. 

Sang Hyang Jagadnata menjadi murka dan mengutus para dewa untuk memberi bancana pada sang Bayi. Akan tetapi gagal karena kena pengaruh tolak bala yang diberi kan Kyai Brikhu dari Ular sawa tadi. Setelah beberapa kali gagal tahulah Sang Hyang Jagadnata bahwa semua itu berasal dari Dewi Sri. Kemudian Sang Hyang Jagadnata atau Batara Guru mengutus para bidadari untuk memanggil Dewi Sri. Dia akan dijadikan bidadari untuk melengkapi bidadari yang ada dikhayangan. permintaan Sang Hyang Jagadnata diterima oleh Dewi Sri, akan tetapi ia mohon agar Raden Sadhana yang dikutuk menjadi burung Sriti agar dapat diruwat menjadi manusia kembali. Ternyata Raden Sadhana telah diruwat menjadi manusia oleh Bagawan Brahmana Marhaesi putra dari Sang Hyang Brahma. Kemudian Raden Sadhana dikawinkan dengan putri yang bernama Dewi Laksmitawahni. Apabila telah berputra, Raden Sadhana akan diangkat menjadi dewa. Kemudian ular sawa diruwat menjadi Dewi Sri kembali oleh para bidadari. Sepeninggal para bidadari, Kyai Brikhu ketika tengah membersihkan petanen terkejut melihat ular sawa lenyap. Yang ada hanya seorang wanita cantik. Kyai Brikhu akhirnya tau bahwa Dewi Sri adalah putri dari Prabu Mahapunggung dinegeri Purwacarita. Sebelum Dewi Sri meninggalkan Kyai Brikhu dan keluarganya dia berpesan agar memberikan sesajen didepan petanen atau kamar tengah agar sandang pangannya tercukupi.setelah itu Dewi Sri moksa dan juga Raden Sadhana kembali ke khayangan.

Oleh karena itu pada setiap pada sethong tengah pada rumah Jawa selalu diberi gambar ular naga sebagai lambang kewanitaan, yaitu Dewi Sri yang memberikan kemakmuran. Para petani apabila ada ular sawah masuk kedalam rumah dijadikan pertanda bahwa sawahnya akan diberikan hasil yang baik atau banyak rejeki. Karenanya mereka tidak mau mengganggu ular sawah dan memberi sesaji.

Namun bagi saya hal ini bisa dibuktikan secara logika. Ular sawah itu menolong Petani dalam menyuburkan dan menjaga sawahnya dari hama tikus yang sangat merugikan. Semakin banyak ular sawah, maka hama tikus bisa dipastikan tidak bisa berkembang biak, sehingga panen bisa berhasil. Oleh karena itu ular naga ini bisa dianggap menjadi sesuatu yang sakral dan dianggap memberikan rejeki. Hal ini sesuai dengan hukum rantai makanan yang berkembang di alam. Oleh karenanya akan lebih baik kalau kita tidak menganggu keseimbangan dari rantai makanan. Bila salah satu rantai terputus maka keseimbangan alam akan terganggu dan kita manusia yang menganggunya akan merasakan efeknya cepat atau lambat.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa ular naga jawa ini tidak memiliki kaitan budaya dengan kebudayaan China. Legenda ular naga ini lahir dan hidup turun temurun dari kehidupan masyarakat Jawa zaman dahulu yang tentunya sebagian besar berprofesi sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. 


Doni kabo 
Perupa tinggal di jogjakarta

Minggu, 04 November 2012

Gejala I/CON Agus Suwage Sindrom


Gejala I/CON Agus Suwage Sindrom
Indonesia Contemporary  Art Network Yogyakarta
Doni Kabo
2012
Video taken by Farhan Adityasmara

Senin, 06 Agustus 2012

Memprotes Perlakuan Terhadap Vincent Van Gogh

TEMPO.CO, Yogyakarta- Melihat lukisan perupa Doni Kabo sempat membuat hati bertanya-tanya. Obyek yang dilukis hanya dua macam, yakni kursi dan lemari. Bentuk kursinya pun nyaris sama. Kursi empuk dengan ukiran di tepinya. Apalagi bentuk pintu yang sangat biasa, papan kayu dengan beberapa lekukan disertai pegangan pintu. Kursi-kursi di dalam ruangan.

Beberapa lukisan diberi pemanis, seperti sebuah meja kecil, bulat, dengan telepon putar di atasnya serta pintu-pintu yang menempel pada dinding, dalam kondisi menutup. Belum lagi warna yang diperlihatkan sangat kusam, menunjukkan suasana muram. Warna hijau dan cokelat tua mendominasi semua lukisan itu.

“Saya ingin menggambarkan suasana di rumah sakit jiwa. Muram. Saat masuk, yang banyak kami temukan kursi dan pintu. Begitu terus,” kata Doni Kabo, saat ditemui Tempo, di Bentara Budaya Yogyakarta, Sabtu malam 4 Agustus 2012. Pintu-pintu itu menggambarkan kamar pasien, yang selalu tertutup dan terkunci. Sedangkan kursi-kursi merupakan tempat pasien jiwa duduk.

Kabo, demikian sapaan akrab perupa kelahiran Banjarmasin 32 tahun lalu itu, sedang menggelar pameran tunggal. Pameran itu bukan untuk syarat merampungkan pendidikan Pascasarjana Seni Lukis Institut Seni Indonesia, melainkan menggelar karya tunggal selama sepekan sejak 1 Agustus lalu, yang diberi tajuk “Opera Cahaya, Pintu, Kursi”. Karya itu untuk menjawab pertanyaan besar, apa batasan kegilaan dengan seniman? 

Ide itu tercetus dari nasib beberapa perupa Barat, seperti Vincent Van Gogh yang diasingkan di rumah sakit karena dianggap gila. Van Gogh sempat membuat karya Sun Flower justru saat dia dianggap gila. “Apakah (menjadi) seniman itu harus gila?” Kabo bertanya pada tiga bulan lalu. 

Dari situ, dia melakukan observasi dengan metode inklusif, yakni keluar dari studio. Ada dua tempat yang dituju, rumah sakit jiwa Puri Nirmala di Pakualaman dan di Panti Sosial Pemerintah Yogyakarta di Karangkajen. Kedua tempat itu berbeda. Puri Nirmala untuk menampung orang sakit jiwa yang mempunyai keluarga, sedangkan Panti Sosial untuk menampung gelandangan sakit jiwa yang terbuang. “Dari observasi itu, saya menemukan dua hal. Soal inspirasi dan halusinasi. Itu jawabannya,” kata dia. 

Bahwa seniman bekerja untuk mencari inspirasi, untuk menghasilkan karya. Sedangkan orang gila berhalusinasi. “Tidak ada karya seni yang dihasilkan orang gila,” ujar Kabo menjelaskan. 

Hal itu terbukti ketika Kabo menyediakan seperangkat alat lukis untuk pasien RSJ Puri Nirmala. Ada kertas, rayon, pensil warna, kuas, dan cat air. Dengan panduan kepala bangsal sebagai mediator, interaksi pun dijalin. “Saat saya minta pasien menggambar bunga, dia menggambar huruf-huruf. Tapi dia bilang itu bunga,” Kabo mengenang. 

Berbeda dengan di Panti Sosial, Kabo tak mengeluarkan alat lukis lantaran tidak ada interaksi. Sekitar satu bulan, barulah dia mendapat kesimpulan, yang dipertegas dokter rumah sakit jiwa itu, bahwa orang gila tidak bisa menggambar. “Berarti orang yang bisa menggambar tidak bisa disebut gila,” kata Kabo memprotes perlakuan terhadap Van Gogh maupun beberapa seniman lain yang sempat “digilakan”. 

Hasil observasi itu dituangkan di 24 kanvas. Kemudian dipilih delapan karya yang lalu dipamerkan. Jika diamati secara detail, meskipun beberapa lukisan tampak sama, ada yang berbeda pada pigura yang dilukis di tepi lukisan. 

Lukisan berjudul OCPK I (Opera Cahaya Pintu Kursi), misalnya, sama denganOCKP IV, yakni Kabo sama-sama melukis kursi panjang berukir dengan tiga tempat duduk. Pada ukiran pigura OCPK I digambarkan orang tua meniup seruling dan menabuh gendering. Sedangkan pada OCPK IV digambarkan sosok dengan kaki menyatu pada ukiran, berbentuk seperti kelopak bunga tulip. 

Lukisan sebagai pigura merupakan ornamen yang diambil dari kode estetika Grotesque, yakni penggambaran ornamen kegilaan yang berlebihan pada zaman setelah renaisans. 

Kurator pameran, Sudjud Dartanto, mengajak pengunjung untuk tidak semata-mata berhenti memaknai karya Kabo, tetapi harus berpikir kritis untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan. “Seperti, dari mana cahaya itu datang dan menerangi akal? Suasana seperti apa sebelum pintu ditutup? Juga siapa yang duduk di kursi itu?” kata Sudjud. 


PITO AGUSTIN RUDIANA


Dunia Absurditas Kabo



Oleh Yuli Yanti

“Opera Cahaya, Pintu, Kursi”  sebuah tema yang dikonsep oleh perupa Doni Kabo dalam pameran lukisan tunggalnya di Bentara Budaya Yogyakarta.  Kabo menggunakan tiga terma, cahaya, pintu dan kursi yang merupakan respon diskursusnya mengenai wacana kegilaan dalam  masyarakat.
Lukisan-lukisan bergambar  pintu, kursi dibingkai dengan warna-warna klasik, terasa dingin, kosong dan sunyi. Deret lukisan diatas kanvas ini adalah  gambaran penghayatan Kabo setelah tiga bulan ia melakukan observasi dan wawancara di rumah sakit jiwa. Apa yang menarik  dari tiga terma yang disuguhkan mahasiswa ISI Yogyakarta ini?

Awalnya konsep Kabo atas cahaya, pintu dan kursi, berangkat dari pertanyaannya tentang konsepsi rumah bagi seseorang. Ia tertarik untuk menjelajahi rumah yang tak lepas dari logika. Hingga  berakhir menjadi satu pertanyaan tentang kedudukan rumah sakit jiwa dalam masyarakat. Dari pengalaman obsevasinya yang liat itu-- muncul ide mempertanyakan soal wacana ‘kegilaan’  tidak mendapat tempat di Akademik Seni.

Kurator Sujud Dartanto yang berkawan dengan Kabo-- sekaligus menjalin diskusi dalam pameran ini  menggunakan wacana ‘kegilaan’ ala Paul Michel Foucault (Madness and Civilization 1961). Foucault seorang ilmuan psikiatri Perancis, selain intelektual, filsuf, sejarawan, kritikus dan sosiolog. Dimana wacana ‘kegilaan’ ternyata adalah produk dari rezim akal (rasionalitas) termasuk didalamnya ilmu pengetahuan yang terlanjur diterima sebagai kebenaran objektif-- yang steril dari kepentingan dan relasi kuasa. Wacana ‘kegilaan’ itu melahirkan disiplin ilmu psikiatri untuk mendefinisikan dan mengontrol tubuh gila.

Kabo merupakan salah satu perupa yang memilki minat terhadap suspensi. Dalam narasi, suspensi hadir sebagai blok kalimat yang membuat pembaca mengalami transformasi emosi. Dari keadaan sedih ke situasi sumringah dan sebaliknya. Sujud  memandang suspensi pada karya Kabo tidak lahir dari satu penghayatan yang kosong dan tak bermakna.

Kabo ada dalam kenyataan objektif, dimana didalamnya pergulatan kebermaknaan terjadi. Kabo juga berada pula dalam ruang, waktu dan historis. Dalam karyanya, realitas dilihat sebagai sebuah opera atau dalam kkhazanah folkore adalah pertunjukkan wayang.

Kembali pada ide Kabo, awal yang absurd  tentang kedudukan rumah sakit jiwa dan wacana ‘kegilaan’ serta seni yang dipersoalkan. Begitupun hubungan imajinasi, inspirasi dan halusinasi. Pameran lukisan Doni Karbo ini berlangsung mulai 1-6 Agustus 2012. “Kabo mengajak kita menikmati suspensi atas Opera Cahaya, Pintu, Kursi dalam bahasa estetik grotesque; mengawinkan dunia alam sadar dan bawah sadar manusia, ”ujar Sujud.

Minggu, 05 Agustus 2012

Pameran Tunggal Doni Kabo

YOGYA (KRjogja.com) - Seniman jebolan Studio Lukis FSRD ITB, Doni Kabo menggelar pameran tunggal ke 9 bertajuk 'Operasi Cahaya, Pintu dan Kursi' di Galeri Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) 1-6 Agustus 2012 dengan menampilkan 8 karya terbaik.

Kurator Pamern, Sudjud Dartanto menjelaskan Doni menampilkan realitas dilihat sebagai opera atau pertunjukan wayang. Selain itu menampilkan visualisasi suspens yang diwakilkan pada tiga terma yaitu cahaya, pintu dan kursi dikonsepsikan secara linier. 

"Tiga terma itu merupakan respons atas pengalamannya dalam menghayati diskursus 'kegilaan' dalam masyarakat. Karya-karya Kabo mengingatkan saya pada bagaimana suspens bisa menjadi hal yang diingini dalan seni rupam" ujarnya di Kotabaru Yogyakarta, Minggu (5/8/2012). (Fir)


http://krjogja.com/read/138288/pameran-tunggal-doni-kabo.kr

1-6 Agustus, Pameran Tunggal "Opera Cahaya Pintu Kursi" Doni Kabo











Reporter: Joe Jogjanews.com - Untuk kesembilan kalinya -tiga kali di Jogja-, seniman Doni Kabo akan menggelar pameran tunggal seni lukis dalam tajuk pameran “Opera Cahaya, Pintu, Kursi” pada Rabu-Selasa (1-6/8) di Bentara Budaya Yogyakarta. Bertindak sebagai kurator pameran adalah Sujud Dartanto. Sebanyak delapan karya akan dipamerkan Doni Kabo.Materi karya yang digunakan dalam karya lukis Doni Kabo adalah cat minyak, teer (bitumen) serta memakai bahandasar aspaltum dengan menggunakan media kanvas. ”Rencana ada delapan karya (yang sudah masuk katalog). Tapi nanti masih mau dilihat alternatif displaynya. Mungkin bisa lebih dari delapan,” terang Doni Kabo, Selasa (31/7). Pameran Seni Lukis “Opera Cahaya, Pintu, Kursi” hadir dari ide dasar yang sekilas tampak absurd yaitu mengenai pertanyaan tentang hubungan antara seni dan persoalan ‘kegilaan’ juga relasi ambiguitas antara pokok inspirasi dan halusinasi. Dari ide dasar itu kemudian Doni Kabo melakukan observasi lapangan. “Saya kerja bareng dari awal bersama kurator, juga sama teman saya Fitri Kristyoarti. Kita pakai metode observasi, inklusif, langsung terjun ke lokasi,” kata seniman kelahiran Banjarmasin ini. Doni Kabo melakukan observasi selama dua hingga tiga bulan ke beberapa pondok pesantren Almunawir Krapyak, Madrasah Masytoh Gamping, Rumah Sakit Jiwa Puri Nirmala serta panti sosial Excode. Dengan pesantren dan Madrasah Aliyah (MA) Almunawir, Doni Kabo melakukan diskusi bersama di Kersan Art Studio. "Kita maju terus agar tidak set back dari gagasan awal,” kata seniman Program Pascasarjana ISI Yogyakarta ini. Kurator pameran, Sujud Dartanto memberi arahan, karya-karya lukis Doni Kabo kali ini adalah karya-karya suspens dalam bahasa estetik mengawinkan dunia alam sadar dan bawah sadar manusia (estetika grotik). - 






http://jogjanews.com/1-6-agustus-pameran-tunggal-opera-cahaya-pintu-kursi-doni-kabo

DONI KABO GELAR OPERA CAHAYA PINTU KURSI DI YOGYAKARTA


Sunday, 05 August 2012
Sebanyak 16 lukisan terpajang di dinding Bentara Budaya dalam pameran bertajuk Opera Cahaya, Pintu, Kursi.Lukisan karya Doni Kabo tersebut memiliki gambar yang terkesan sederhana dibandingkan dengan pameran yang dilakukan perupa pada umumnya.


Biasanya para perupa mengangkat tema-tema sosial, politik, serta gaya hidup untuk dijadikan sebagai sebuah karya. Namun Doni justru memiliki pandangan lain. Perupa asal Banjarmasin itu, justru lebih memilih objek yang ada di sekelilingnya sebagai bahan pameran, seperti pintu,kursi,dan lampu. Kabo-sapaan akrabnya menuturkan,beberapa objek lukisan yang disajikan itu tercetus dari konsep bahwa seni rupa sejatinya adalah seni penghayatan.Artinya, kata dia,untuk membuat suatu karya lukis setiap perupa harus mampu menghayati setiap objek yang ada di sekelilingnya tanpa harus membuat suatu konsep yang terkesan rumit. 

“Objek apa pun di sekeliling kita tentu bisa diangkat menjadi sebuah karya seni,”kata dia,di selasela pameran,kemarin. Objek terdekat itu yang menjadi perhatian Kabo. Seperti rumah,selain berfungsi sebagai tempat berlindung dari panas serta hujan, rumah juga merupakan tempat beristirahat dan menjalankan pekerjaan domestik lainnya.Namun,konsep rumah tersebut tidak sebatas merupakan rumah sebagai tempat tinggal.Melainkan rumah dalam konsep lebih luas yakni rumah sakit jiwa. 

Sebelum melaksanakan pameran,Kabo melakukan penelitian di salah satu rumah sakit di Yogyakarta.Dari hasil pengamatannya,dia mendapat fakta bawa di setiap ruangan pasti memiliki pintu, lampu,serta kursi. Hasil pengamatannya itu, lantas ditransformasikan ke sebuah karya seni lukis.Namun, tiga wujud itu tidak lantas persis ia gambarkan ke dalam karyanya.Dia lebih menggambarkannya dengan bahasa estetik grostesque, sebuah genre lukis yang lahir pada era The Age Of Reason. 

Dalam karya lukisan ini terlihat kental nuansa klasik lukisan miliknya.“Frameini sengaja saya masukkan untuk menambah kesan klasik dalam setiap karya lukis saya,”ucapnya. Melalui pameran yang dipersiapkan selama hampir dua bulan itu,Kabo,seolah memberikan wacana baru terhadap dunia seni rupa di Yogyakarta,bahwa setiap objek yang berada di sekeliling bisa diangkat sebagai sebuah tema pameran. 

“Sejak awal 90-an seni rupa berbasis penghayatan telah tergantikan dengan kontemporer seiring dengan majunya perkembangan seni rupa di Yogya bahkan di Indonesia,”katanya.


 WINDY ANGGRAINA Yogyakarta 
Seputar Indonesia


Jumat, 03 Agustus 2012

Doni Kabo Pamerkan Karya di Bentara Budaya







TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Pameran Tunggal Seni Lukis Doni Kabo yang bertajuk “Opera Cahaya, Pintu, Kursi” dipamerkan di rumah galery Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), mulai Rabu (1/8/2012) hingga (6/8/2012). 

Pameran yang di selenggarakan oleh perupa tunggal yang mempunyai minat besar pada perihal suspens atau dalam bahasa narasinya kalimat yang membuat pembaca mengalami transformasi emosi dari keadaan sedih ke situasi sumringah dan sebaliknya ternyata terinspirasi dari renungan dan observasinya pada masa pra-pameran, dengan bermula dari pertanyaa-pertanyaan awal mengenai konsep rumah dan arti rumah bagi seseorang, sampai dengan hal yang paling kecil dalam penamaan istilah “rumah” ialah “rumah sakit jiwa”.

Di ambil dari nama “rumah sakit jiwa’, Doni Kabo tertarik dengan pada wacana “kegilaan”, yang menjadi bahan diskusi dalam inspirasi dah halusinasinya untuk berkarya di pamerannya kali ini. Hingga ada satu kutipan yang di ambil Kabo “dimana sebuah karya seni hadir, maka kegilaan tidak pernah ada” (Michel Foucault, “Madness and Civilization” (1961). Kabo mengajak penikmat pameran untuk menikmati suspens atas Opera Cahaya, Pintu, Kursi dalam bahasa estetik grotesque dari berbagai symbol visual yang di gunakan. Dengan membangun pertanyaan-pertanyaan untuk memperpanjang suspens pada diri penikmat karya-karyanya. (M3)



Minggu, 24 Juni 2012

Semut, Laba-Laba dan Lebah! #Abstraksi







Presentasi oleh Doni Kabo "SEMUT, LABA-LABA DAN LEBAH"
dan Pameran Bersama "Sang Rumah" 

Peserta : 
Doni Kabo dan 24 Santri Sanawiah Yayasan Masyithoh Gamping 


Semut, laba-laba, dan lebah adalah tiga binatang kecil yang menjadi nama dari tiga surah di dalam Al Qur’an, yaitu Al Naml (semut), Al Ankabut (laba-laba), dan An Nahl (lebah). Semut adalah binatang yang menghimpun makanan sedikit demi sedikit tampa henti-hentinya. Konon, binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun. Kelobaan semut sedemikian besar sehingga ia berusaha dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang jauh lebih besar daripada ukuran tubuhnya, meskipun sesuatu itu tidak berguna baginya.

Selanjutnya, Al Qur’an menguraikan tentang laba-laba: sarangnya adalah tempat yang paling rapuh ( QS 29:41), ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sarangnya akan disergap dan binasa. Jangankan serangga yang tidak sejenis, jantannya setelah selesai ‘berhubungan’ pun disergapnya untuk dimusnahkan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Demikianlah para ahli menjelaskan, sebuah gambaran yang sangat mengerikan mengenai laba-laba.

Akan tetapi, lebah memiliki insting yang—dalam bahasa Al Qur’an—“atas perintan Tuhan ia memilih gunung-gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal” (QS 16:68), dan sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukan lima atau empat agar tidak terjadi pemborosan dalam lokasi. Makanan lebah adalah kembang, dan tidak seperti semut yang menumpuk makanannya, lebah mengolah makanannya dan hasil olahannya adalah lilin dan madu yang sangat berguna bagi manusia. Lilin digunakan untuk penerang, dan madu—kata Al Qur’an–dapat menjadi obat yang menyembuhkan. Lebah sangat disiplin, menggenal pembagian kerja, dan segala yang tidk berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak menganggu kecuali ada yang mengganggunya, bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat. 

Sikap hidup manusia seringkali diibaratkan dengan berbagai jenis binatang. Ada manusia yang berbudaya semut, yakni menumpuk tanpa mengolah, ada yang seperti laba-laba yang suka memangsa, dan juga ada lebah yang penuh kemanfaatan. Nabi saw. mengibaratkan seorang mukmin sebagai lebah, sesuatu yang tidak merusak dan tidak pula menyakitkan: Tidaklah makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya. Nah, dapatkah kita menjadi ibarat lebah, bukan semut apalagi laba-laba? 


*Shihab, M. Quraish. 2008. Lentera Al Qur’an. Jakarta: Mizan 


di Kersan Art Studio, JL. AS Samawat no 154 Tirtonirmolo KAsihan Bantul Yogyakarta

Selasa, 12 Juni 2012

Dusun Keloran ingin Bersih dari Masalah Sampah

Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia Andayani


TRIBUNKJOGJA.COM, YOGYA - Dari rasan-rasan tentang masalah sampah yang berserakan di lingkungan Dusun Keloran ditambah kebiasaan anak-anak yang membuat instalasi sederhana berbahan bekas bungkus rokok, Kelompok Post Tropic –kemudian- menggagas satu festival untuk Dusun Keloran. 

Panitia Pelaksana Octalyna Puspa Wardany mengatakan pilihan Dusun Keloran sebagai tempat berlangsungnya festival dengan judul “Keloran Bersih” bukanlah tanpa alasan. Studio kelompok Post Tropic yang terdiri atas 4 perupa Yogyakarta; Allatief, Doni Kabo, Fuad Danar, dan Harlen Kurniawan; memang berada dalam wilayah Dusun Keloran, Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY. 

“Melalui festival ini, kelompok Post Tropic berharap Dusun Keloran menjadi lebih bersih sembari mengakrabkan seni rupa pada anak-anak,” ujarnya dalam rilis yang disampaikan kepada Tribunjogja.com, Selasa (12/6/2012).

Festival bertajuk “Keloran Bersih” ini, ternyata mendapat tanggapan baik dan didukung oleh panitia Festival Kebudayaan Yogyakarta. Festival Kebudayaan Yogyakarta, secara resmi, akan berlangsung pada tanggal 20 Juni – 10 Juli 2012 di seluruh pelosok Yogyakarta dengan tema “Masa Depan Kita”. Namun demikian, acara-acara yang diselenggarakan berbagai kelompok seni sebelum tanggal resmi pelaksanaan FKY, singkatan akrab Festival Kebudayaan Yogyakarta, dapat diakomodir dalam festival ini. 

Penyelenggaraan FKY tahun ini memang hendak menggeliatkan berbagai kegiatan seni di komunitas. Jadilah, festival Keloran Bersih ini merupakan bagian dari Festival Kesenian Yogyakarta 2012.

Festival “Keloran Bersih” mulai dilaksanakan sejak tanggal 10 Juni hingga 24 Juni 2012. Ada 4 kegiatan dalam festival ini, yaitu: Lomba Gambar dan Pameran Lukis Anak pada tanggal 10 Juni 2012, mulai jam 10.00 WIB. Sablon kaos yang merupakan penyediaan fasilitas penyablonan kaos bagi warga dan masyarakat umum selama festival “Keloran Bersih” bersih berlangsung; 10 – 24 Juni 2012.

“Juga akan diadakan Gotong Royong bersama warga Dusun Keloran untuk membersihkan kali pada 17 Juni 2012. Kreasi pembuatan Tong Sampah Bersama pada tanggal 19 – 24 Juni 2012. Kecuali kegiatan Gotong Royong Bersih Kali Keloran, tiga kegiatan festival ini akan diberlangsungkan di Studio Kelompok Post Tropic,” paparnya.

Dalam perjalanan penyelenggaraan Fetival “Keloran Bersih”, banyak pihak turut pula memberikan bantuan dan dukungan dalam berbagai bentuk. Kelompok Sculpcrut yang terdiri dari para mahasiswa Fakultas Seni Rupa, Jurusan Seni Patung, Institut Seni Indonesia angkatan 2011 berperan aktif dalam penyelenggaraan festival ini. Juga, kelompok Ketjil Bergerak, Survive Garage, Taring Padi, Art Merdeka, All & Windoe t-shirt cotton yang berdomisili di dekat Dusun Keloran. 

Tak melupa pada Sasenitala dan JogjaNews, serta dukungan penuh dari Warga Dusun Keloran dan Komunitas Muslim Muda Keloran “Ashabul Aqsha” untuk mewujudkan “Keloran Bersih” (*).

Sabtu, 09 Juni 2012

Kelompok Post Tropic dan Warga Dusun Keloran Selenggarakan Festival Keloran Bersih - See more at: http://jogjanews.com/kelompok-post-tropic-dan-warga-dusun-keloran-selenggarakan-festival-keloran-bersih#sthash.rgXf76VJ.dpuf

Kelompok Post Tropic dan Warga Dusun Keloran Selenggarakan Festival Keloran Bersih



Reporter: Joe


JOgjanews.com - Kelompok Post Tropic pada 10-24 Juni 2012 akan menggelar Festival Keloran Bersih” di Dusun Keloran, Tirtonirmolo Kasihan Bantul. Rilis kelompok Post Tropic menjelaskan Festival Keloran Bersih diawali dengan adanya rasan-rasan tentang masalah sampah yang berserakan di Dusun Keloran serta kebiasaan anak-anak Dusun Keloran yang membuat instalasi sederhana dari bahan bekas bungkus rokok.

“Melalui festival ini, kelompok Post Tropic berharap Dusun Keloran menjadi lebih bersih sembari mengakrabkan seni rupa pada anak-anak,” terang rilis dari kelompok Post Tropic, Sabtu (9/6). Kelompok Post Tropic terdiri dari empat (4) seniman (perupa) yang tinggal di Dusun Keloran Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY. Mereka adalah Allatief, Doni Kabo, Fuad Danar serta Harlen Kurniawan.

Festival Keloran Bersih ini juga mendapat perhatian dan dukungan tinggi dari penyelenggara Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2012 sehingga bisa dimasukkan menjadi bagian dari penyelenggaraan kegiatan seni budaya FKY 2012.

“Acara-acara yang diselenggarakan berbagai kelompok seni sebelum tanggal resmi pelaksanaan FKY 2012 dapat diakomodasi dalam FKY 2012 sehingga jadilah Festival Keloran Bersih menjadi bagian dari FKY 2012,m” kata rilis kelompok Post Tropic.

Penyelenggaraan Festival Keloran Bersih” didukung banyak pihak yang memberikan bantuan dalam berbagai bentuk. Mereka antara lain kelompok Sculpcrut yang terdiri dari beberapa mahasiswa Jurusan Seni Patung Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Juga ada komunitas Ketjilbergerak, Survive Garage, Taring Padi, Art Merdeka, All & Windoe t-shirt cotton yang berdomisili di dekat Dusun Keloran. Komunitas Muslim Muda Keloran “Ashabul Aqsha” juga terlibat untuk mewujudkan dusun Keloran yang bersih..

Mulai Minggu (10/6) besok, Festival Keloran Bersih akan memulai kegiatannya. Berikut jadwal kegiatan Festival Keloran Bersih:

Lomba Gambar dan Pameran Lukis Anak pada tanggal 10 Juni 2012, mulai jam 10.00 WIB. Diselenggarakan di Studio Kelompok Post Tropic. 
Sablon kaos yang merupakan penyediaan fasilitas penyablonan kaos bagi warga dan masyarakat umum selama Festival Keloran Bersih bersih berlangsung 10 – 24 Juni 2012. Kegiatan ini dilakukan di Studio Kelompok Post Tropic. 
Kreasi pembuatan tong sampah bersama, Selasa-Minggu (19-24/6). Kegiatan ini juga diselenggarakan di Studio Post Tropic. 
Gotong Royong bersama warga Dusun Keloran untuk membersihkan kali Keloran Minggu (17/6) . Kreasi pembuatan Tong Sampah Bersama pada tanggal 19 – 24 Juni 2012.


Minggu, 19 Juni 2011

Doni Kabo – Ironi Sang penari Ronggeng






Haloo, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena beberapa minggu ini saya jarang sekali mengUpdate artikel di blog ini, sejak sekitar 2 bulan yang lalu saya memang disibukan dengan persiapan 2 event yang cukup menguras waktu dan tenaga saya, bila teman-teman lihat di Post artikel saya sebelum-sebelum ini, saya sering sekali menampilkan 2 event Desain Grafis, yang pertama adalah Pameran TUAI 2010, pameran Tugas Akhir mahasiswa Desain Grafis Seluruh Indonesia dan yang kedua dengan jarak yang sangat deket adalah Seminar David Berman ‘Beyon Brand and Design’, kedua Event tersebut memakan waktu saya untuk berkunjung ke Galeri & menulis di Blog, bagi teman-teman yang sudah berkunjung ke dua event tersebut saya ucapkan terimakasih banyak :). OK, sekarang saya bisa memulai kembali aktivitas melaporkan pameran seni apa saja yang sudah saya kunjungi, silahkan dinikmati.


Pameran pertama saya mulai dari Pameran Tunggal Doni Kabo di Langgeng Galleri – Jakarta Art District, secara pribadi tidak banyak yang saya ketahui mengenai seniman yang satu ini, satu-satunya informasi dan pengalaman yang saya miliki adalah saat mengunjungi pameran tunggalnya yang berjudul‘Mewarnai Hitam’ tahun lalu di tempat yang sama.





'Ingin memperhatikannya' | bitumen, oil, acrylic, aquarelle pencil, pastel Oil, Spray paint on canvas | 150x100cm | 2011 






'Ingin merindukannya' | bitumen, oil, acrylic, aquarelle pencil, pastel Oil, Spray paint on canvas | 150x100cm | 2011



Ironi Sang Penari Ronggeng membawa saya kepada suatu impresi bahwa apa yang dibawa oleh pameran ini ‘hanya’ sebuah pameran yang menampilkan figur seorang penari, diluar dari teknik lukis yang dimiliki Doni Kabo, sudah tidak ada hal lain lagi yang menurut saya menarik, setidaknya itulah yang saya pikirkan saat melihat secara langsung pameran ini, dan izinkan saya memohon maaf karena ternyata setelah saya membaca habis semua isi katalog Ironi Sang Penari Ronggeng ini, saya merasa semakin terpesona dengan figur yang dihadirkan oleh sang Seniman.


Pameran ini adalah sebuah pameran yang bisa saya katakan marupakan bentuk Apresiasi Doni Kabo terhadap karya Ahmadat Tohari, seorang sastrawan Indonesia dengan karyanya yang berjudul ‘Ronggeng Dukuh Paruk’, Doni Kabo merasa kagum serta menaruh perhatian besar kepada tokoh wanita pada kisah sastra tersebut yang bernama Srintil. Dan bentuk apresiasinya tersebut ia hadirkan dalam bentuk figur wanita penari ronggeng. Figur wanita tersebut dihadirkan Doni Kabo melalui foto yang kemudian ia lukis ulang dalam media kanvas, yang manarik dalam setiap karya Doni Kabo adalah ia sering dan selalu menggunakan bahan Aspalt sebagai penghantar imajinasinya, selain itu sering kali ia juga menggunakan berbagai macam alat lukis seperti Cat minyal, acrylic hingga spray paint dalam satu karyanya, meski menggunakan begitu banyak alat lukis, karya yang dihadirkan oleh Doni Kabo tetaplah merupakan sebuah lukisan monochrome yang detail dan mempesona.


Exhibition Name :Ironi Sang penari Ronggeng
Place : Langgeng Gallery (Jakarta Art District)
Curator : Alia Swastika
Time : 28 April – 22 Mai 2011
Artist : Doni Kabo